Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 November 2017

, , , ,

Resensi Buku Selimut Debu karya Agustinus Wibowo


Menyelami kehidupan di Afghanistan

Ketika travelling ke luar negeri kita pasti cenderung memilih tempat wisata menarik seperti ke negara-negara di Eropa, Amerika, atau Asia lainnya. Berbeda dengan kebanyakan orang, Agustinus Wibowo justru memilih untuk travelling ke negara-negara konflik seperti Afghanistan. Berbekal niat untuk melakukan perjalanan ke Afrika melalui jalur darat, Agustinus melalui buku Selimut Debu mengajak kita mengikuti petualangannya menjadi backpacker sebagai fotografer jurnalis di Afghanistan.

Agustinus melakukan perjalanan di tahun 2006 ketika Taliban sudah tidak lagi menguasai Afghanistan. Tetapi bukan berarti tanpa ancaman, sering kali Agustinus berada di kota yang setiap malamnya selalu ada bom meledak seperti di kota Kabul. Saking sering terjadinya ledakan bom, ini bukan menjadi hal yang mengkhawatir lagi bagi warga Afgahnistan.

Berada di Afghanistan bagaikan menembus lorong waktu ke peradaban lama. Agustinus menyebutnya dengan dunia paralel. Di malam hari, kota di Afghanistan menjadi gelap total.Tidak ada penerangan. Untuk berkendaraan pun butuh waktu yang lama untuk mencapai ke kota lain. Alat angkutan di sana sangat terbatas. Sekalinya ditemui satu angkutan, angkutan itu sudah terisi penuh oleh penumpang lainnya. Angkutannya pun bukanlah Toyota Carry atau Toyota Kijang seperti mikrolet di Jakarta, tetapi berupa Fallang Coach. Kendaraan yang sudah tua dan berjalan dengan kecepatan lambat.

Di balik keterbelakangan dan kengerian di Afghanistan, tersimpan keindahan dan keunikan negeri ini. Orang-orang Afghanistan adalah orang-orang yang sangat menghargai tamu. Setiap kali Agustinus menginap di rumah salah satu warganya, ia selalu dijamu dengan baik oleh sang tuan rumah. Meskipun para wanita di sana tidak boleh terlihat oleh tamu laki-laki, sang istri tetap menjamu dengan baik. 

Keunikan di negeri ini ialah kita dapat membeli bedil yang modelnya seperti bedil buatan Amerika dengan harga yang murah. Mereka akan membuatkan bedil sesuai dengan keinginan kita dari berbagai model dan membuatnya hanya dalam hitungan hari. Tetapi jangan ditanya soal kualitasnya karena ini hanya bedil tiruan, tentu saja tidak bedil ini akan cepat rusak.

Adanya keterbelakangan Afgahnistan bukan berarti tidak ada kemewahan. Afghanistan memiliki pusat perbelanjaan dan tempat-tempat mewah. Sayangnya kemewahan ini kebanyakan dinikmati oleh orang-orang asing yang bekerja di Afghanistan. Seperti para developer dan juga orang-orang yang mengatasnamakan organisasi sosial untuk perubahan di Afghanistan yang sebenarnya tidak membawa perubahan.

Dalam buku ini Agustinus menulis catatan perjalanannya dengan begitu apik layaknya sebuah novel. Ia mampu menceritakan sejarah Afghanistan yang ia akan sambungkan dengan cerita perjalanannya tanpa terkesan dipaksakan atau menggurui. Tulisannya penuh dengan cerita humanis orang-orang yang ia temui di sepanjang perjalanannya dan pandangan-pandangan hidup yang ia peroleh selama perjalanan.

Seperti keprihatinan yang ia rasakan kepada perempuan Afghanistan yang aktivitasnya dibatasi sehingga tidak bisa hidup mandiri. Perempuan di sana hidup menjadi tanggungan ayahnya. Ayahnya lah yang menafkahi mereka. Jika ayahnya meninggal, maka menjadi tanggungan pamannya. Jika perempuan Afghanistan menikah, hidup mereka akan ditanggung oleh suami. Namun jika suaminya meninggal, ia akan menjadi tanggungan keluarganya kembali atau akan berakhir menjadi pengemis karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk dapat hidup sendiri.

Melalui Selimut Debu, Agustinus memberikan gambaran kehidupan di Afghanistan secara transparan, yang baik dan juga yang buruk. Menyibak hal-hal tak terduga dan hal-hal yang menakjubkan dari negeri ini.  Mengajak kita merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di sana. Merasakan apa yang mereka dambakan mengenai pendidikan yang merata dan juga kehidupan yang dapat memberikan penghasilan lebih baik untuk keluarga mereka. Serta memberikan pandangan baru mengenai kehidupan di negeri lain yang terkenal dengan negara perang ini. 
Continue reading Resensi Buku Selimut Debu karya Agustinus Wibowo

Selasa, 31 Oktober 2017

, , ,

Resensi Buku Norwegian Wood Karya Haruki Murakami



Kehidupan di Usia 20 Tahun

Usia 20 Tahun di negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea merupakan titik awal seseorang dinyatakan menjadi dewasa. Saat menjadi dewasa tentu banyak hal yang mewarnai hidup kita. Tentang cinta, kehidupan sosial dengan teman, hingga pergolakan jiwa dalam menghadapi permasalahan hidup.

Kehidupan menjadi seseorang yang baru dewasa ini coba dilukiskan oleh Haruki Murakami melalui novel Norwegian Wood. Novel yang menceritakan kisah Tori Watanabe tentang kehidupannya sebagai seorang pemuda dan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Lagu Norwegian Wood karya the Beatles yang diputar setelah pendaratan pesawat yang ditumpangi Watanabe saat tiba di Hamburg membawa kembali semua memori kehidupannya delapan belas tahun yang lalu.  Kehidupannya di usia 20 tahun dan bayangan wanita bernama Naoko yang ia cintai. Banyangan itu muncul di hadapannya mengantarkan kita menelusuri kehidupan masa muda Watanabe.

Watanabe adalah pemuda biasa yang tidak terlalu pintar dalam bidang akademik. Dia justru cenderung menjauh dari lingkungannya dan memiliki pandangan dan selera berbeda dari kebanyakan teman-temannya. Tetapi bukan berarti dia tak memiliki teman dekat. Ia mempunyai beberapa teman yang akan dikenalkan oleh Murakami dalam novel ini. Ia juga merupakan orang yang menyenangkan dan dapat menerima kondisi teman dan temannya apa adanya.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu menarik dalam kehidupan Watanabe. Kehidupannya berjalan seperti pemuda lainnya dengan bumbu-bumbu kisah cinta di dalamnya. Hanya saja cara penggambaran Murakami dalam novel ini membuat saya ingin terus membacanya. Murakami sangat detail dalam menggambarkan situasi dan cara berpikir tokoh-tokohnya. Entah dalam bentuk narasi ataupun dialog. Saya dapat dengan jelas membayangkan bagaimana situasi tokoh dan sekelilingnya hingga hal terkecil sekalipun. Layaknya menonton sebuah film.

Tidak hanya sekedar kisah cinta, Murakami dalam novel ini juga menggambarkan bagaimana situasi kehidupan anak muda di Jepang pada tahun 1969. Setiap tokoh yang hidup dekat dengan Watanabe memiliki cerita tentang permasalahan sosial. Salah satunya adalah kasus bunuh diri yang banyak dilakukan anak muda Jepang pada zaman tersebut.

Seperti penggambaraan dua sahabat Watanabe yang diceritakan bunuh diri, yaitu Kizuki dan Naoko, wanita yang dicintai Watanabe. Bahkan Naoko juga bercerita padanya bahwa kakaknya meninggal karena melakukan bunuh diri.

Mengenai kasus bunuh diri ini, secara tidak langsung Murakami mengkritik melalui monolog Watanabe kepada Kizuki. Ia memilih untuk terus bertahan hidup menahan rasa sakit menunggu kesembuhan Naoko yang sedang berada di sanatorium. Tidak lantas hanya mengkritik, Murakami juga memberi kalimat penyejuk atau penyemangat untuk berjuang melalui pergolakan hidup melalui dialog antar tokoh dan pemikiran Watanabe.

Bisa dibilang saya langsung jatuh cinta dengan karya Haruki Murakami karena buku Norwegian Wood ini dan siap untuk membaca karya lainnya.
Continue reading Resensi Buku Norwegian Wood Karya Haruki Murakami

Rabu, 16 November 2016

,

Resensi Kerumunan Terakhir: Kritik Sosial untuk Pengguna Media Sosial


Saat ini kita hidup dalam dunia teknologi yang terus berkembang cepat. Perkembangan teknologi ini mampu membuat cara kita bersosialisasi dengan orang lain ikut berkembang. Kita bisa bersosialisasi dengan orang-orang di luar batas wilayah kita. Tak pelak perubahan teknologi ini juga mengubah cara hidup kita.

Perubahan hidup akibat teknologi inilah yang coba digambarkan oleh Okky Madasari dalam novel Kerumunan Terakhir melalui tokoh Jayanegara. Jayanegara adalah seorang pemuda anak dari bapak seorang professor dan ibunya seorang guru madrasah. Sayangnya bapaknya yang seorang professor tidak menjadikan dirinya sepintar bapaknya.

Kepergian ibunya dari rumah akibat bapaknya yang selingkuh dengan perempuan lain membuat Jayanegara sangat membenci bapaknya. Hingga akhirnya ia pergi ke Jakarta meninggalkan kuliahnya untuk menyusul pacarnya bernama Maera yang sudah lebih dulu tinggal di sana untuk bekerja. Saat tinggal bersama Maera, ia mengajarkan Jayanegara cara membuat email dan menyuruhnya untuk mencari lowongan pekerjaan di Internet. (hlm. 79)

Di internet Jayanegara tidak hanya sekedar mencari lowongan pekerjaan. Ia mulai menemukan dan memasuki berbagai macam kerumunan-kerumunan seperti grup mailing list dan Facebook yang membuatnya betah duduk berlama-lama untuk menikmati hidup di dunia barunya. Memasuki dunia baru ini Jayanegara lahir sebagai sosok baru dan menamai dirinya dengan Matajaya. Ia pun tidak membiarkan orang-orang yang mengenalnya di dunia nyata mengetahui identitasnya sebagai Matajaya termasuk Maera. (hlm. 94)

Dengan nama Matajaya, ia menulis kisah hidupnya, kisah Simbah, dan kisah Ibu Bapaknya. Tentu tidak semua cerita tersebut sesuai dengan keadaan Matajaya yang sebenarnya. Ia ramu lagi jalan ceritanya sesuai dengan keinginannya. Ia menambahkan yang ia mau dan ia kurangi yang tidak perlu. Dari cerita tersebut, Matajaya yang seorang pengangguran mampu didengar dan selalu dinantikan oleh orang-orang di dunia baru (hlm. 119). “Di dunia baru kamu bisa punya nama baru, kamu bisa menjadi seseorang yang baru, siapa pun yang kamu mau,” ujar Matajaya (hlm 237).

Matajaya memanfaatkan dunia baru ini sebagai ajang untuk melakukan balas dendam kepada bapaknya, yaitu Sukendar. Semula ia bercerita kepada orang-orang tentang bapaknya tanpa menyebutkan nama, tetapi hanya gelar professornya saja. Setelah bertemu dengan Kara, teman yang ia kenal dari dunia baru, mereka kemudian bekerja sama untuk menjatuhkan Sukendar. Sayangnya Matajaya harus mendekap di penjara beberapa hari karena pencemaran nama baik, walaupun akhirnya ia dibebaskan dengan bantuan bapaknya. (hlm. 316)

Kehidupan di media sosial yang dilakukan oleh Matajaya digambarkan Okky Madasari seperti aktivitas di kehidupan nyata. Bagaimana Matajaya berjalan-jalan dan saling sapa dengan orang-orang di kerumunan dunia baru. Bagaimana ia naik ke podium untuk menceritakan kisah-kisah hidupnya di depan orang banyak. (hlm 108)

Dalam novel Kerumunan Terakhir, Okky berusaha memberikan kritik sosial tentang perilaku kebanyakan manusia karena hadirnya teknologi berupa media sosial. Kita yang semakin dekat dengan orang-orang asing yang tidak kita ketahui sebelumnya. Kita yang ikut mencaci seseorang hanya karena semua orang mencacinya. Banyaknya orang yang haus akan perhatian, ingin dikenal, ingin disukai, dan ingin memiliki banyak pengikut. (hlm 172)

Okky juga mengkritik melalui karakter para tokoh atau kejadian yang mereka alami. Seperti karakter Maera yang selalu berorientasi pada masa depan dan selalu mengikuti zaman. Sayangnya justru pemikiran Maera ini terkesan sempit karena menurutnya masa depan hanyalah lulus kuliah dan bekerja. Ia selalu berusaha mengejar masa depannya untuk cepat lulus, mendapat pekerjaan di Jakarta, dan menjadi wartawan. Hingga ketika ia sudah menggapai masa depannya, ia merasa lelah dengan rutinitas pekerjaan yang sudah dijalankannya (hlm 148).

Lewat tokoh Juwi, adik Jayanegara yang masih SMP, kita akan menyadari bahwa di dunia baru yang tanpa batas ini segala sesuatu yang kita sebar akan diketahui masyarakat umum dengan cepat. Ketika itu Juwi bercerita dan menyebarkan foto teman sekelasnya yang disabet oleh guru di Internet. Juwi tidak menyangka ceritanya itu akan menjadi berita besar dan membuatnya harus bolak-balik ke kantor polisi untuk diinterogasi (hlm 178).

Akhirnya novel Kerumunan Terakhir mengingatkan kita tentang dahsyatnya pengaruh media sosial terhadap perubahan sikap kita dan juga dampaknya berkelanjutannya di dunia nyata bila kita tidak menggunakannya secara bijak.



Judul
: Kerumunan Terakhir
Penulis
: Okky Madasari
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Terbit
: Cetakan kelima, Juni 2015
Tebal
: 357 Halaman
ISBN
: 978-602-03-2543-9



Continue reading Resensi Kerumunan Terakhir: Kritik Sosial untuk Pengguna Media Sosial

Sabtu, 21 November 2015

,

Resensi Buku Negeri van Oranje: Semua tentang Belanda

Judul
: Negeri van Oranje
Penulis
: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandi Permana
Penerbit
: Bentnag Pustaka
Terbit
: Cetakan kelima, Juni 2015
Tebal
: 575 Halaman
Harga
: Rp 54.000,00


Sudah banyak sekali novel-novel motivasi tentang kuliah di luar negeri yang bertebaran di Indonesia. Di mulai dari Tetralogi terkenal Laskar Pelangi milik Andrea Hirata, Trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, hingga novel islami 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Rais. Masing-masing penulis tersebut memberikan gaya penulisannya yang khas dan dari sudut pandang berbeda dalam bercerita. Entah dari sudut agama, budaya, ataupun sosial. 

Begitu pula dengan Negeri van Oranje. Novel karya empat sekawan Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandi Permana ini menceritakan tentang perkuliahan di luar negeri. Tentang bagaimana lika-liku perjalanan mahasiswa Indonesia yang berkuliah magister di Belanda. Cerita dalam novel ini tidak hanya menceritakan tentang satu orang saja, melainkan dibalut dengan kisah persahabatan lima mahasiswa Indonesia yang tidak sengaja dipertemukan di stasiun Amersfoort.

Dari pertemuan tidak sengaja itu, mereka memulai persahabatan lewat media chatting Yahoo Massenger!. Persahabatan yang terdiri dari empat laki-laki dan satu orang perempun ini kemudian diberi nama Aagaban yaitu Aliansi Amersfoort GAra-gara BAdai Netherland. Seperti persahabatan pada umumnya yang saling berbagi dalam suka dan duka, persahabatan mereka di luar negeri ini sukses bikin saya mupeng dan jadi rindu sahabat lama.

Novel yang akan segera difilmkan ini tidak hanya sekedar menceritakan pengalaman asli para penulisnya saja, tetapi juga dibubuhi dengan cerita humoris dan kata-kata lucu untuk melengkapi beberapa penggalan kalimatnya. Wajar saja jika Andrea Hirata memberikan komentar bahwa novel ini menyenangkan.

Kelima tokoh dalam novel diceritakan tinggal di wilayah berbeda di Belanda dan memiliki latar belakang beragam mengapa bisa menuntut ilmu hingga di Negeri Kincir Angin. Seperti Lintang, satu-satunya tokoh wanita di novel ini, tinggal di wilayah Leiden karena sudah disiapkan oleh tabungan orang tuanya. Lalu Daus, orang betawi yang berkuliah di jurusan Hukum tinggal di kota Utrecht mendapatkan beasiswa dari tempatnya bekerja di Departemen Agama.

Ada lagi Banjar, yang bernama asli Iskandar dan asli Banjarmasin ini mendapat tantangan dari temannya untuk hidup mandiri di luar negeri dan menetap di Rotterdam. Selanjutnya Wicak, anak asli Banten ini tinggal di Wageningen, yang universitasnya merupakan pusat riset pertanian dan kehutanan di Belanda. Terakhir ada Geri, yang digambarkan sebagai pria paling tampan ini sudah lama tinggal di Den Haag sejak kuliah S1.

Karena perbedaan tempat tinggal dari kelima tokoh tersebut, kita akan diajak mengunjungi masing-masing kota. Novel ini mungkin hampir mirip dengan buku travel writing yang dikemas dalam bentuk novel. Karena tidak hanya cerita perjalanan para tokoh saja yang digambarkan, tetapi juga menceritakan dengan sangat rinci tentang keindahan alam, sejarah, kebudayaan, makanan, dan keunggulan kota-kota di Belanda.

Hampir di setiap bab dilengkapi pula tentang tip dan trik hidup di Belanda sebagai mahasiswa rantau. Seperti memilih tempat tinggal, bergaul dengan warga asli Belanda, acara-acara Festival yang ada di Belanda, hingga tip menarik lainnya yang sangat membantu mahasiswa Indonesia yang ingin berkuliah di sana. Karena tip dan trikRupanya ini sangat bermanfaat karena tidak semua tip dan trik tersebut bisa didapatkan di buku panduan beasiswa yang ada di lembaga resmi Belanda.

Walaupun hal humoris banyak menghiasi novel ini, para penulis juga tidak lupa menyampaikan banyak pesan moral tentang terkait isu politik ataupun sosial di Indonesia seperti Illegal logging dan hal mendasar yang dialami mahasiswa yang berkuliah di luar negeri. Akankah mereka segera pulang ke Indonesia setelah lulus atau memilih berkarier di luar negeri?

“Ibarat rumah, ye. Biar kompleks rumahnye dibikin cakep dari luar, ada taman segala, tapi kalau dari dalem nggak ada yang piara, nggak ada yang bersihin, kan, lama-lama ambruk juga tu rumah!” ujar Daus yang memilih untuk pulang setelah lulus karena berusaha memperbaiki system birokrasi di Indonesia.

Sebuah cerita kehidupan rasanya akan terasa hambar tanpa cerita cinta. Persahabatan Aagaban ini tentunya juga dihiasi dengan cerita cinta yang unik walaupun terkesan klasik. Ketiga tokoh pria, yaitu Wicak, Banjar, dan Daus diam-diam menyukai sosok Lintang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sayangnya Lintang menyukai Geri yang ternyata hanya menganggapnya sebagai adik karena ia tidak tertarik dengan wanita.

Sayangnya karena hampir keseluruhan novel ini menceritakan tentang Belanda, konflik dalam cerita ini terasa kurang greget. Kita harus membaca hingga hampir di tiga perempat novel untuk menemukan konfliknya. Beberapa penggalan cerita dari penurunan konflik tersebut sebenarnya akan kita dijumpai di awal cerita, lalu kita akan menemukan kronologisnya ketika Lintang kaget menerima kenyataan bahwa Geri adalah seorang gay.

Lewat sosok Geri yang seorang gay, para penulis seperti ingin menceritakan sisi lain Belanda sebagai bagian dari Eropa yang pro terhadap hubungan homoseksual. Seperti terdapatnya parade gay ataupun bar khusus untuk gay yang memiliki ciri gambar pelangi di namanya.

Pada intinya buku ini cocok bagi mereka yang ingin menuntut ilmu di luar negeri terkhusus di Belanda atau hanya sekedar ingin mengetahui tentang serba-serbi negeri Oranje ini.
Continue reading Resensi Buku Negeri van Oranje: Semua tentang Belanda