Sabtu, 25 April 2015

,

Resensi The Atlantis Gene: Fantasi dalam Sejarah dan Ilmiah

Tema Atlantis sedang asik-asiknya diperbincangkan. Apalagi kabarnya Indonesia merupakan salah satu bagian dari negeri tersebut. Negeri yang menurut Plato hilang karena gempa bumi dan banjir besar. Atlantis menjadi semakin menarik ketika A.G. Riddle menulisnya ke dalam sebuah novel fiksi pertamanya yang diceritakan dengan gabungan thriller action dan sejarah ilmiah.

Kisah dalam novel The Atlantis Gene (Gen Manusia Atlantis) dimulai dengan prolog yang menceritakan tentang ditemukannya sebuah kapal selam U-Boat milik Nazi di Antartika dan ikuti dengan penemuan sebuah bangunan yang ada di bawah kapal selam tersebut. Bangunan tersebut adalah bangunan yang selama ini mereka cari, tetapi Riddle rupanya ingin membuat para pembaca penasaran dengan tidak menceritakan bangunan apa yang mereka temukan dan apa identitas para penemu itu sebenarnya.

Novel ini membagi cerita ke dalam tiga bagian berdasarkan latar tempatnya. Jakarta Membara menjadi bagian pertama. Tidak heran jika gambar Monas dan gambar kobaran api menjadi inspirasi desain sampul novel yang diterjemahkan oleh Ahmad Alkadri ini. Penculikan dua anak autis dari laboratorium milik Dr. Kate Warner dan pemboman yang terjadi di Stasiun Manggarai memulai cerita thriller dengan aksi laga yang digambarkan sengan sangat apik dan rinci oleh penulis.

Riddle menggambarkan kota Jakarta sebagai ibukota yang macet sesuai dengan realita masa kini. Namun ada sedikit keganjalan kecil. Setting waktu dalam novel ini adalah tahun 2013, tetapi ia masih menggambarkan suasana stasiun Manggarai dan penumpang kereta seperti tahun 2000-an sebelum diberlakukannya larangan duduk di atap kereta api. “Remaja dan penumpang yang masih muda duduk di atap kereta, berjongkok atau meluruskan kaki, membaca koran, memainkan ponsel, dan mengobrol,” kata Riddle.

David Vale adalah salah seorang agen dari Menara Jam, sebuah organisasi anti teroris yang memberikan perlindungan untuk menjaga dunia. Organisasi ini mirip seperti CIA, namun keberadaannya dirahasiakan dari pemerintah. David merasa bahwa organisasi ini telah disusupi oleh Immari yakni sebuah perusahaan yang berkonspirasi untuk menjatuhkan dunia. Kejadian 9/11 di kota New York menabraknya pesawat ke menara kembar WTC diduga David adalah ulah dari perusahaan Immari tersebut.

Orang-orang di dalam organisasi Menara Jam jusrtru mengejar David Vale karena menyangka bahwa ia adalah penyusup dalam organisasi tersebut. David pun harus melarikan diri dari kejaran mereka dan disaat yang sama ia juga harus menyelamatkan Kate dari kepolisian yang kemudian ditangkap oleh orang-orang Immari bagaikan seorang tersangka. Padahal mereka adalah orang-orang yang membiayai penelitian Kate tentang anak-anak autisme di Indonesia.
Riddle sangat detail dalam menggambarkan setiap adegan aksi thriller tembak-tembakan dan kejar-kejaran dalam bagian ini. Latar tempatnya tentu masih di Kota Jakarta. Dalam sampul dituliskan bahwa novel ini akan segera diangkat ke layar lebar. Jika itu memang lokasi yang akan digunakan nantinya adalah di Jakarta, entah di lokasi mana film ini akan dilakukan. Mengingat Jakarta adalah kota yang padat.

Novel ini terdiri dari 144 bab. Jumlah bab yang banyak ini tidak akan terasa karena cerita dalam setiap babnya ditulis secara singkat. Hal menarik lainnya dari buku ini adalah pemaparan sejarah tentang keberadaan manusia dan spesies-spesies manusia lainnya yang ada di bumi pada ratusan ribu tahun lalu seperti Neanderthal, Hobbit, dan Denisovan yang dijelaskan secara ilmiah melalui dialog antar tokoh.

Immari ingin melakukan pemusnahan manusia untuk mengurangi jumlah populasi manusia yang ada saat ini dengan menggunakan Protokol Toba agar Lompatan Besar ini terjadi. Meletusnya Gunung Toba di Indonesia menghasilkan debu yang menutupi matahari di banyak tempat di dunia sehingga terjadi musim dingin vulkasnis selama bertahun-tahun. Perubahan ini yang mengakibatkan Lompatan Besar jumlah populasi manusia yang semula berjumlah 200.000 menjadi hanya 10.000.

Ketegangan yang terjadi ketika Kate dan David berhasil melarikan diri dari kejaran orang-orang Immari Jakarta untuk menyelamatkan kedua anak autis Kate yang diculik di Immari Tibet, Tiongkok, mengantarkan kita pada bagian kedua yang mengambil latar tempat di Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok. Kate dan David berhasil masuk ke dalam Pusat Riset Immari di Tiongkok dengan menggunakan ID karyawan di sana dengan bantuan seseorang yang ingin menyelamatkan dunia dari Immari.

Di sini Kate berhasil bertemu dengan kedua anak autis tersebut, namun sayangnya mereka harus terpisah kembali karena diketahui oleh orang-orang Immari. Sebagai balasannya Kate dimasukan ke dalam sebuah ruangan yang terdapat Lonceng yang mampu mengeluarkan getaran yang sangat kuat hingga membuat darah seseorang meledak. Lonceng ini kabarnya merupakan senjata rahasia yang digunakan oleh Nazi.

Banyak manusia yang dijadikan bahan percobaan untuk Lonceng ini. Semua manusia yang dimasukkan ke dalam ruangan tersebut tewas, tetapi Kate dan dua anak autisnya justru tetap selamat. Hal inilah yang membuat Immari penasaran penelitian apa yang digunakan oleh Kate kepada dirinya dan dua anak autisnya hingga mereka bisa selamat karena mereka ingin menggunakannya untuk melaksanakan Protokol Toba.

Kate dan David hampir saja mati ketika terjadi ledakan di Pusat Riset akibat Lonceng ini. Namun akhirnya mereka terselamatkan oleh bantuan para biksu yang tinggal di pengunungan Tibet. Mereka menetap beberapa waktu sampai keadaan David pulih akibat tembakan yang terjadi di pusat riset. Di sinilah mereka menemukan tujuan Immari melalui jurnal milik Patrick Pierce yang dititipkan kepada kepala biksu bernama Qian.

Di dalam bagian ini cerita didominasi oleh tulisan dari jurnal tahun 1917 yang cukup panjang dan membosankan. Saya sendiri rasanya ingin buru-buru ingin mengetahui kejadian di tahun 2013. Namun catatan jurnal ini sayang untung dilewatkan karena berisi sejarah tentang perjalanan hidup Patrick dengan Immari yang sangat rinci dan memiliki hubungan yang sangat mengejutkan pada bagian berikutnya.

Pada bagian terakhir, Riddle mengajak kita untuk mengetahui gambaran Atlantis melalui jurnal dan petualangan Kate dan David. “Kami percaya ini adalah Atlantis. Kota yang diceritakan Plato. Lokasinya Tepat. Plato mengatakan Atlantis berada di tengah Samudra Atlantik, dan bahwa Atlantis adalah pulau yang menghadap selat menuju Pilar Herkules,” Craig menjelaskan kepada Patrick ketika dibujuk untuk terus menggali terowongan yang menurutnya adalah pintu gerbang untuk memasuki Atlantis.

Pintu gerbang tersebut adalah Gibraltar yang berada di Spanyol. Batu Gibraltar ini adalah salah satu Pilar Herkules dan menjadi jalan menuju benua-benua lainnya. Dari lokasi tersebut terdapat struktur ganjil yang sedang digali oleh Immari yang dijelaskan melalui jurnal yang dibaca Kate dan David. Dari penelusuran proyek struktur di Gibraltar tersebut Immari menemukan Lonceng lainnya yang ketika diangkat ke daratan menyebabkan terjadinya wabah Flu Spanyol yang menewaskan banyak orang.

Banyak sekali kejutan-kejutan yang disajikan pada akhir bagian ini. Seperti keterkaitan antara para tokoh di dalam jurnal milik Patrick Pierce dan tokoh saat cerita berlangsung. Kita juga akan tahu alasan kenapa Kate dan dua anak autisnya bisa selamat dari getaran Lonceng. Siapa seseorang yang membantu Kate dan David untuk bisa sampai ke Tibet. Pada intinya pertanyaan yang timbul saat membaca novel ini dari awal akan terjawab di bagian akhir ini.

Riddle sangat apik menggabungkan unsur sejarah, ilmiah, dan fantasi ke dalam novel pertamanya. Saya sendiri pada awalnya sulit untuk membedakan antara sejarah dan penjelasan ilmiah yang sesungguhnya dengan cerita fiksi yang dibuat Riddle. Saya hampir percaya dengan kemungkinan yang diungkapkan salah satu tokoh bahwa anak autis bisa berevolusi di masa depan sebagai bangsa yang dapat membantai manusia. Namun begitu tiba di akhir cerita, saya pun mengerti bagian mana yang berupa fantasi karena ada banyak hal yang tidak logis jika memang itu adalah sebuah sejarah atau bentuk ilmiah.

Continue reading Resensi The Atlantis Gene: Fantasi dalam Sejarah dan Ilmiah

Sabtu, 31 Januari 2015

, ,

Mengambil Kesempatan

Banyak keuntungan dengan bergabung di organisasi terutama organisasi yang bisa mewujudkan impian kita. Satu lagi dengan bergabung di LKM, hari ini saya mendapat pengalaman baru menjadi moderator acara Pelatihan Menulis Resensi untuk Media Massa. Pematerinya orang luar biasa. Penulis esai, cerpen, dan juga kritik buku nasional. Ia adalah Damhuri Muhammad.

Pada saat mendapat tawaran dari Ka Egi (Kadiv. Public Speaking) LKM UNJ untuk menjadi moderator, awalnya saya ragu untuk menerima tawaran ini. Perlu beberapa menit untuk mengambil keputusan. Pertimbangannya adalah ini merupakan acara di luar LKM dan membutuhkan penampilan yang tidak boleh mengecewakan karena akan berdampak pada kepercayaan teman-teman di UNJ dalam menggunakan jasa MC dan Moderator dari LKM. Informasinya pun juga sangat mendadak. Selain itu saya juga memiliki jadwal part time mengajar di bimbel.

Pada saat itu saya masih memikirkan keuntungan ekonomis. Jika saya mengajar saya bisa mendapatkan tambahan uang tapi tanpa pengalaman baru. Sedangkan untuk menjadi moderator, saya belum terlalu siap apalagi menjadi pemandu untuk pembicara yang hebat. Namun saya berpikir bahwa ini adalah pengalaman untuk bisa mengembangkan sayap tidak hanya di kandang sendiri. Saya perlu pengalaman di luar yang bisa menunjang kemampuan diri saya. Saya pikir ini adalah kesempatan untuk mengembangkan diri. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi moderator. Meminta izin untuk tidak mnegajar di tempat bimbel.

Satu malam saya rasa cukup untuk menyiapkan bekal menjadi moderator. Walaupun saat itu masih belum mendapat informasi yang jelas dari panitia saya akan menjadi moderator untuk materi ke berapa.

Pada saat melihat kondisi acara yang santai membuat saya ikut santai dalam mempersiapkan diri menjadi moderator. walaupun saya masih berpikir keras pertanyaan apa yang harus saya kemukakan untuk memancing audiens nanti atau jika tidak ada yang bertanya. Sampai saya meminta kepada senior-senior saya yang hadir untuk membuatkan pertanyaan. Tentu mereka tidak mau dengan alasan agar saya belajar.

Tidak banyak yang saya lakukan sebagai moderator kecuali hanya memperkenalkan pemateri dengan membaca CV dan membantunya untuk mengambil kertas dari peserta pelatihan. Detik sebelum saya memandu materi kedua, saya sangat tegang. Mungkin ini yang membuat saya merasa agak sedikit gagap atau artikulasi saya saat bicara menjadi kurang jelas dan takut untuk biacara lebih banyak. Namun ketegangan ini mulai menghilang begitu saya bicara dan duduk di sebelah pemateri.

Pada awalnya saya memang belum mengenal beliau. Tapi setelah membaca biografinya, mengetahui beliau dari senior, dan antusias peserta kepada beliau, saya menyadari bahwa beliau memang sangat hebat. Hanya saja saya yang kurang update. Sudah banyak jumlah tulisan beliau yang dimuat di media nasional, buku-buku yang diterbitkan, dan juga cerpen-cerpennya yang terkenal.  Beliau memang tidak seterkenal penulis fiksi popular seperti Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, ataupun Asma Nadia. Tapi justru menurut saya, penulis hebat seperti Pak Damhuri Muhammad adalah orang-orang terkenal di kalangan orang-orang tertentu. Ini yang membuat beliau dan orang-orang seperti beliau lebih spesial.

Sebagai moderator seharusnya saya mengajak ngobrol pemateri agar tidak terjadi keheningan saat peserta sedang sibuk dengan tulisan mereka. Tapi yang terjadi tadi, justru pak Damhuri yang mengajak saya berbincang tentang film Jerman dan tentang komunitas baca di LKM. Mungkin beliau memaklumi keadaan saya yang masih newbie kali ya..

Well, banyak pelajaran berharga yang dipetik dalam pelatihan ini. Dalam bidang penulisan, meresensi buku memang menjadi pilihan favorit saya ketimbang esai dan cerpen. Semula saya berpikir dalam menulis resensi itu mudah hanya dengan menuangkan tanggapan kita terhadap buku yang kita baca. Dari pelatihan ini saya menyadari bahwa tulisan resensi saya belum ada apa-apanya. Dan memang meresensi buku tidaklah mudah.

Selain menjelaskan isi cerita dari buku, kita perlu menghubungkan hal-hal yang berada di luar buku atau unsur ekstrinsiknya. Lalu membandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis atau dengan memperhatikan kejadian yang terjadi pada kurung waktu sang penulis mengarang buku. Kemampuan untuk bisa menulis resensi yang baik dan bisa dimuat di media massa harus diimbangi dengan banyak berlatih. Menurut pak Damhuri meresensi buku tidak harus ketika selesai membaca satu buku. Setiap satu bab kita buat resensinya sudah cukup untuk kita berlatih. Agar resensi bisa dimuat di media massa pun kita harus membuat resensi buku yang sesuai dengan kondisi terbaru saat ini dan tidak menawarkan isu yang sudah selesai.

Menjelang akhir penjelasan dari Pak Damhuri saya mendapat ilham untuk mengajukan satu pertanyaan. Dan ini mendapatkan poin plus dari ka egi karena saya berhasil bertanya di saat tidak ada peserta yang bertanya. Hikmah menjadi moderator saya menjadi saling kenal dengan pemateri dan menambah jaringan baru.

Selalu mengambil kesempatan yang ada menjadi pesan diakhir evaluasi Ka Egi untuk saya. Saya jadi merasa telah mengambil keputusan yang benar walaupun awalnya sempat ragu. Alhamdulillah. Tinggal perlu banyak latihan lagi untuk membaca, menulis, dan berbicara.


Continue reading Mengambil Kesempatan

Minggu, 07 Desember 2014

, ,

Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika: Petualangan Mencari (Kebenaran) Berita

Petualangan Hanum dan Rangga di Amerika bermula ketika Hanum mendapatkan tugas dari kantornya untuk membuat artikel tentang kejadian 11 September 2001 dengan temawould the world be better without Islam?”  dan di saat yang sama Rangga juga ditugaskan oleh professornya untuk menghadiri Konferensi di Washington DC.

Petualangnan mereka berdua semakin seru ketika hendak menuju Washington DC mereka tersesat akibat kerumunan massa yang sedang berdemo tentang peringatan hari 9/11 di New York. Ternyata dari terpisahnya mereka berdua, mereka menemukan pelajaran berharga antara hubungan Islam dan Amerika, serta menemukan hal-hal yang sangat berharga yang dibutuhkan Hanum untuk artikelnya.

Buku Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTdLA) karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra ini kembali mengajak kita untuk melihat cahaya Islam di negeri Paman Sam ini melalui kejadian 9 September 2001. Jika pada buku 99 Cahaya di Langit Eropa (99 Cahaya), gaya penulisan hanya berorientasi pada cerita Hanum, maka kali ini mereka membuat gaya penulisan dalam buku ini lebih menarik dengan mengambil sudut pandang kedua penulis (Hanum dan Rangga) dan beberapa narasi kejadian berdasarkan tanggal.

Hanum dan Rangga begitu apik dalam menceritakan kejadian demi kejadian yang mereka alami saat terpisah di Washington DC. Narasi tentang kejadian 9/11 juga digambarkan dengan sangat baik, sehingga membawa pembaca seolah-olah sedang melihat dan merasakan langsung kejadian tersebut. Mereka juga memberikan beberapa fakta dan logika tentang kejadian tersebut melalui tokoh antar tokoh saat Hanum melakukan wawancara, seperti “kenapa bangunan yang begitu tinggi dan kuat tersebut bisa jatuh” dan “terdengar bunyi ledakan bom di lantai bawah gedung padahal pesawat jatuh dari atas”.

Keterkaitan antar tokoh dalam novel ini menambah nuansa dalam petualangan Hanum dan Rangga. Seperti Jones yang sangat membenci Islam karena Istrinya meninggal akibat kejadian tersebut dan Julia seorang mualaf yang juga ditinggal mati oleh suaminya akibat kejadian yang sama merupakan narasumber Hanum dan istri dan suami mereka yang meninggal memiliki hubungan sebagai karyawan Phillipus Brown yang merupakan pemateri Konferensi Rangga ketika di Washington DC.

Tidak hanya soal keterkaitan 9/11 yang selama ini menyudutkan islam yang dibahas Hanum dan Rangga dalam kaitan Islam dan Amerika, mereka juga menemukan fakta lainnya seperti sejarah singkat berdirinya benua Amerika, Thomas Jefferson yang bisa berbahasa Arab dan juga memperlajari Al-Qur’an, simbol-simbol Islam yang digunakan di kantor-kantor pengadilan Amerika, salah satu terjemahan ayat suci Al-Qur’an yang dipajang di pintu masuk gerbang Fakultas Hukum Harvard University, dan lainnya.

Walaupun untuk cerita-cerita awal novel ini sempat membosankan, tapi begitu mengikuti petualangan mereka di Amerika, novel ini semakin menarik. Pada intinya, novel BTdLA lagi-lagi memberikan khazanah pengetahuan yang baru tentang sejarah Islam dan memberikan bukti lainnya yang membuat kita semakin bangga dengan agama ini.
Continue reading Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika: Petualangan Mencari (Kebenaran) Berita

Minggu, 23 November 2014

, ,

Kompetisi Melahirkan Pertemanan

Tidak disangka selesai menulis catatan perjalanan pertama ke Makassar di blog, saya pergi lagi ke kota Anging Marimi ini. Hal yang membuat saya makin begeistert (excited) adalah saya pergi ke Makassar sebagai mahasiswa untuk kompetisi mewakili kampus bersama dua teman saya, Gustaf dan Bayu. Satu impian saya berhasil tercoret. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti lomba di luar kota dan berhadapan dengan peserta lainnya karena biasanya saya hanya ikut lomba di depan laptop.

Gustaf, saya, dan Bayu
setelah pembukaan acara Inovasi Unhas 2014
Saya pun lagi-lagi tak menyangka akan singgah di kampus merah yang pernah saya lewati saat hendak menuju bandara beberapa bulan lalu selama tiga hari ke depan. Saya akan singgah di kampus terbaik di Indonesia bagian Timur.

Serasa pembicaraan beberapa bulan lalu bersama keluarga di Makassar menjadi kenyataan. Salah satunya ketika Paman meminta saya untuk datang lagi bersama teman yang asik diajak ngobrol dan hari ini saya datang lagi bersama dua orang teman saya. Harapan saya waktu itu adalah membawa teman sekamar saya di kosan tetapi saya membawa dua orang teman lelaki untuk berkompetisi.

Jalan menuju ke Makassar inipun penuh dengan cobaan. Dimulai dari meminta dana ke Pembantu Rektor (PR) III yang ternyata sudah tutup buku dan jumlah dana yang diberikan oleh fakultas yang tidak sesuai dengan permohonan karena sistem di setiap fakultas di kampus saya berbeda dalam meminta dana. Beruntung Allah memberkahi saya dengan PA, sekaligus Dosen Pembimbing LKTI, sekaligus Kajur saya yang murah hati mau memberikan dana pribadinya untuk lomba ini.

Cobaan lainnya adalah di malam kami akan berangkat ke Makassar pada Kamis malam, tepung ikan teri dan tepung lele yang Bayu buat hilang entah di mana. Padahal kami harus membuat kue yang harus dibawa saat presentasi di Makassar karena LKTI kami menghasilkan sebuah produk bernama BISLERI, yaitu biskuit yang dibuat dari campuran tepung ikan lele dan teri sebagai alternatif pangan darurat untuk anak. Akhirnya Bayu dan Gustaf pun pergi ke Kramat Jati untuk membeli Ikan Lele dan Teri yang akan dibuat lagi malam itu di rumah Bayu. Kami pun memutuskan untuk membuat kue di rumah Paman saya di Makassar.

Karena kami menggunakan pesawat Lion Air yang berangkat pukul 05.00 WIB dan harus sampai di bandara sekitar pukul 03.00, maka saya menginap di LKM dan berangkat pukul 02.30 dengan taksi bersama Bayu. Kami pun menunggu Gustaf hingga pukul 03.30 dan ketika ia tiba, tadaaaaa.. handphonenya ketinggalan di taksi. Masalahnya lagi, ia bukan naik taksi Bluebird atau Express, which is ga akan mau mengembalikan HP-nya. Setelah mencoba menelpon HP-nya berkali-kali, Gustaf pun mengikhlaskan telponnya dengan berat hati.

Jumat, 14 November 2014

Well, berangkat ke luar kota bareng teman adalah hal yang menyenangkan. Apalagi kalau perginya sama orang yang rame seperti kedua teman saya ini. Ada aja hal yang dibicarakan sepanjang perjalanan dari mulai hal-hal konyol sampai yang hal yang serius untuk didiskusikan. Mau foto-foto juga ga perlu pake malu karena malunya ditanggung bareng-bareng. Haha

Heading to Makassar
Selama perjalanan ke Makassar kami lebih banyak tidur. Tapi begitu pesawat sudah mulai tiba di langit Makassar, kami semangat banget melihat Makassar dari jendela pesawat. Saya pun dengan jelas bisa melihat jembatan kembar yang saya lewati ketika hendak ke Kampung Jeneponto beberapa bulan lalu.

Akhirnya kami pun tiba di Bandara Hasanuddin, kami di jemput Paman saya dengan mobilnya. Tidak beberapa lama setelah tiba di rumah Paman, kami pun segera membuat kue dengan bahan-bahan yang sepupu saya beli. Beruntungnya kakak sepupu saya ini hobi sekali masak dan bikin kue. Jadi kami cukup tertolong untuk membuat bahan presentasi ini.

Gustaf adalah chef pembuat biskuit ini. Saya dan Bayu cuma bantu sekedarnya saja. Saya sampai diledekin sepupu saya karena belum bisa bikin kue dan cuma bisa makan aja. Kue pun akhirnya selesai dibuat. Awalnya aroma kue ini masih ada mau ikan terinya, tapi lama-lama baunya jadi hilang. Sampai-sampai keponakan saya sebagai tester awal sempat menolak kue yang kami beli dari toko karena „trauma“ dengan bau ikan pada kue ikan yang kami berikan sebelumnya.

This is it, BISLERI ala Chef Gustaf


Setelah selesai sholat Ashar kamipun diantar ke Rusunawa Universitas Hasanuddin tempat kami akan menginap. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh sekitar 30-45 menit berubah menjadi 2 jam lamanya karena macet yang panjang di Makassar. Kemacetan ini terjadi karena kami berangkat di jam orang-orang pulang bekerja dan ditambah mahasiswa Makassar yang sedang berdemo menolak kenaikan BBM.

Kami tiba di Rusunawa pukul 6 sore dan saya mendapatkan kamar dengan dua anak Unhas. Bayu dan Gustaf tidur di kamar yang sama. Saya sekamar dengan Armawati Arsyad dari Kedokteran Unhas 2012 dan Firnawati dari Argikultural 2013. Mereka adalah teman yang asik. Arma ternyata berasal dari Bone dan Firna dari Toraja. Kamipun sharing tentang kampus dan Makassar.

Malam pertama saya masih belum nyaman dengan suasana di sini. Setiap mau makan dan setelah technical meeting, saya masih saja sering main ke kamar Gustaf dan Bayu untuk mencari teman ngobrol dan juga untuk latihan presentasi. BTW, saat technical meeting banyak yang kaget ketika saya memperkenalkan diri dari jurusan Bahasa Jerman.

Sabtu, 15 November 2014

Hari ini adalah waktunya kami mempresentasikan karya tulis kami. Presentasi akan dilaksanakan di gedung rektorat Unhas. Sebelum berangkat saya dan teman sekamar saya menyempatkan waktu untuk selfie sambil menunggu seluruh peserta berkumpul di Rusunawa untuk berjalan bersama ke gedung rektorat.

Arma dan saya
Semua menggunakan Almamater kampusnya dan membawa peralatan yang dibutuhkan untuk presentasi. Kami juga kagum ketika melihat mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) membawa replika program mereka untuk presentasi.

Ruang presentasi untuk LKTI dan LKTM berada dalam satu gedung, sedangkan lomba Orasi Ilmiah berada di teras luar Gedung Rektorat. Tidak ada sekat yang membatasi LKTI dan LKTM. Dalam presentasi pun kami tidak menggunakan microphone. Alhasil, kami tidak bisa mendengar dengan jelas presentasi peserta lain. Yang menarik, untuk babak pertama peserta LKTS suaranya sangat lantang dibandingkan dengan LKTM. Tetapi lama kelamaan, makin siang suara peserta LKTS justru semakin menurun dan peseta LKTM semakin keren dalam presentasi.

Awalnya kami cukup percaya diri dengan presentasi kami, walaupun kami sempat kurang kompak saat penutupan dan hal ini malah bikin peserta lainnya tertawa melihat kami. Ditambah lagi komentar salah satu juri yang bilang tim kami bagus dan jawaban bagus dari Gustaf dan Bayu saat menjawab pertanyaan juri. Tapi melihat presentasi peserta lainnya kami jadi hilang percaya diri karena mereka semua keren banget.

Seluruh Peseta LKTM
Selesai presentasi, kami pun dikumpulkan untuk membuat satu kelompok dari tiga universitas untuk persiapan membuat penampilan di acara Sara Sehan nanti malam. Kami satu kelompok dengan Universitas Tadulako (Untad), Palu dan Unair. Mereka adalah Rukmana dan Nur dari  Kesehatan Masyarakat Untad berserta mas Luinta, mas Yanuar, dan mas Nara dari Kedokteran Hewan Unair. Mereka punya selera humor yang luar biasa bikin kelompok ini jadi rame. Kami pun berdiskusi apa yang harus kami tampilkan untuk sara sehan nanti. Setelah memikirkan ini dan itu, Rukmana yang selalu menyumbang ide, memberikan ide yang kami setujui untuk membuat parodi presentasi yang kami lakukan siang tadi.

Tapi sayangnya sampai acara sara sehan dimulai, kami masih juga bingung apa yang mau ditampilkan dan percakapan apa saja yang harus diucapkan. Sampai akhirnya kelompok kami adalah kelompok yang pertama tampil dan menghasilkan kegaringan. Kamipun jadi menertawakan kelompok kami sendiri. Ternyata kebingungan dengan apa yang mau ditampilakan saat sara sehan tidak hanya dialami oleh kelompok kami, 2 kelompok LKTM lainnya juga seperti itu. Tapi ada satu kelompok yang menjadi  Best Performace yang menampilakan Parodi yang menarik. Mereka gabungan dari Unhas, Unsoed, dan ITS. Mereka menampilkan parodi tentang Indonesian Idol.

Sara sehan malam ini cukup ampuh untuk mendekatkan kami semua. Saya jadi dekat dengan Nur dan Rukmana, kami pun sempat sharing tentang kampus dan daerah masing-masing. Begitu juga dengan Gustaf dan Bayu bersama mas-mas dari Unair.

Minggu, 16 November 2014

Hari ini adalah hari terakhir kegiatan INOVASI UNHAS 2014. Acara hari ini adalah Seminar Nasional tentang pangan dan pengumuman pemenang seluruh lomba. Tempat acaranya di Baruga atau kita biasa sebut Aula. Tempat ini bisa menampung sekitar 5000 orang dan biasa digunakan untuk wisuda.

Pembicara seminarnya adalah salah satu orang penting dari Kementerian Kedaulatan Pangan dan Pertanian dan MITI. Banyak orang-orang penting yang seharusnya hadir dalam rundown acara tapi ternyata mereka hanya tertulis di atas kertas saja (red: tidak datang) seperti Menteri Kedaulatan Pangan dan Pertanian dan Bupati Kabupaten Bantaeng. Secara garis besar seminarnya mengajak kami untuk mencintai pangan lokal dan menghindari makanan cepat saji serta mengurangi konsumsi beras.

Saat seminar masih berlangsung, saya dan Bayu iseng mengeluarkan kata-kata yang ada di bungkus permen Kis yang kemarin diberikan panitia.  Bayu pun berkata, "Ayo za, kira-kira apa yang keluar dari kantong gue yang berhubungan dengan LKTM kita." Keluarlah permen dari saku Bayu dan kata-kata yang muncul adalah „Tingkatkan Prestasi“. Kami pun kaget dan mangambil kesimpulan "jangan-jangan kita ga menang dan maka dari itu kita harus meningkatkan prestasi lagi“. Pikiran kami berdua menjadi tidak fokus namun berusaha tetap tenang dan menerima hasil apapun.

Sepertinya "ramalan“ permen Kis Bayu itu menjadi kenyataan. Tim kami memang benar-benar tidak menang. Ini mungkin karena harapan awal kami "yang penting sampai Makassar dan ga menang pun ga masalah“ tapi berubah jadi mau menang karena ongkos ke Makassar yang lumayan menguras kantong dan kejadian HPnya Gustaf yang hilang. 

Namun walaupun tidak menang, menjadi 15 finalis sudah cukup membanggakan. Kami juga tetap mendapatkan cenderamata dari Panitia berupa kupu-kupu yang diawetkan dari Banti Murung, tempat yang pengen banget saya datangi. Saya ikut berbahagia teman-teman dari ITS meraih juara pertama, Unsoed juara kedua, dan Unair juara ketiga. Juara Harapan juga diraih oleh salah satu tim dari UB, Unhas, dan UMY. Selamat untuk prestasi mereka!

Peserta LKTM bersama Panitia Inovasi

Acara selanjutnya adalah Field Trip. Tapi karena hujan turun, kegiatan ini ditunda sampai ashar bertepatan dengan berhentinya hujan. Rencana awal panitia, kita akan mengunjungi Fort Rotterdam, pusat oleh-oleh, dan Pantai Losari, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan kami tidak bisa mengunjungi Fort Rotterdam. 

Dari pusat oleh-oleh kami pun langsung diantar ke Pantai Losari tidak jauh dari sini. Kami memasuki Pantai Losari dari sisi kanan. Ini adalah sisi kanan pertama yang saya lewati karena sebelumnya saya hanya mengelilingi pantai ini dari sisi sebelah kiri dekat masjid terapung sampai anjungan tulisan Pantai Losari.

Kami sangat beruntung datang ke Pantai Losari di minggu sore ini karena di saat yang sama sedang ada acara pemecahan rekor memanggang Pisang Epe terpanjang dan terbanyak di dunia. Jadi kami bisa menikmati Pisang Epe sepuasnya secara gratis. Apalagi ini adalah hal yang diidamkan Bayu, bernostalgia dengan masa kecilnya.




Sampai adzan maghrib, kami berjalan sepanjang Pantai Losari menuju masjid terapung, setiap beberapa meter kami selalu berhenti untuk berfoto-foto. Kamipun tersadar betapa jauhnya kami berjalan dari ujung ke ujung Pantai Losari ini ketika kembali ke Rusunawa dengan Mobil. Namun jauhnya jarak itu tidak terasa karena kami selalu berfoto. Haha


Bersama Panitia, Peserta dari UMY dan UNTAD
Karena pemintaan para peserta, sebelum kembali ke Rusunawa kami mampir ke Restoran untuk menikmati Coto Makassar. Saya duduk bersama anak-anak UB, Unair, UMY, dan ITS. Sambil menunggu makanana datang, kami pun berbincang-bincang. Walaupun duduk dengan peserta dari berbagai universitas, tapi kami jadi seperti membentuk kelompok tersendiri, saya dan Gustaf berbincang dengan mba April dari UB, mas Rizki dari Unsoed, dan LO Unhas. Mba Melly membahas masalah pangan dengan mas Yanuar, dan Bayu berbincang masalah teknik dengan anak-anak ITS, UB, dan UMY.

Gustaf bersama Mas Yanuar, Mas Nara, dan Mas Luinta dari Unair

Saat perjalanan kembali ke Rusunawa, dalam hati saya membatin, “acaranya udah selesai ya? Berarti akan menghadapi dunia nyata sebentar lagi.” Maksudnya harus kembali ke Jakarta dan berkuliah lagi. Yang pada awalnya saya tidak betah, lama-lama saya menikmati ini semua dan rasanya ga mau berakhir.

Malam ini juga kami harus check out dari Rususnawa dan ketika mengambil barang di kamar, Arma dan Umrah memberikan saya hadiah kenang-kenang. Saya senang sekali tapi malu juga karena saya tidak memberikan apa-apa untuk mereka sebagai balasan. Saya berniat memberikan sesuatu ketika tiba di Jakarta nanti.  Paman saya pun akhirnya tiba untuk menjemput saya, tapi Gustaf harus menunggu karena akan dijemput suadaranya. Sedangkan Bayu memilih untuk menginap di kosan salah satu peserta LKTM dari Unhas. Ia ingin merasakan jadi mahasiswa Unhas katanya, makanya ia menolak untuk bermalam di rumah paman saya atau pun saudaranya Gustaf.


Senin, 17 November 2014

Hari terakhir di Makassar awalnya saya berencana mengunjungi ke Banti Murung, tapi saya urungkan karena hari minggu kemarin saudara dari kampung datang ke kota untuk menemui saya. Namun kami tidak dapat bertemu karena saya masih ada acara di Unhas. Maka saya berencana untuk memilih ke kampung daripada ke Banti Murung, jika waktu memungkinkan. Tapi ternyata karena saya harus Check in di bandara pukul 17.00, saya tidak bisa ke mana-mana di hari ini. Alhasil saya cuma bisa mengerjakan tugas desain dari Yayasan Kita dan Buah Hati.

Berhubung ini adalah hari senin, saya diantar ke bandara oleh paman saya sekaligus menjemput Bayu di Unhas pukul 14.45. Khawatir macet karena demo dan orang-orang pulang kerja. Lagi-lagi perjalanan menuju bandara hujan turun, sama seperti beberapa waktu lalu. Benar saja, di Unhas sedang terjadi demo menuntut PR III diturunkan karena kasus narkoba. Mereka menutup jalan sehingga seluruh mobil harus masuk melewati kompleks Unhas. Puncak macetnya memang berada di dalam Unhas karena ketika keluar kompleks, jalanan justru lengang. Tapi kalau tidak begitu, saya tidak bisa lihat keseluruhan kompleks Unhas yang luas ini. Mereka juga punya rumah sakit mungkin seperti RSCM untuk kedokteran UI.

Kami tiba di bandara pukul 16.30 dan kami langsung masuk tanpa menunggu Gustaf. Karena kami sudah check in online untuk booking tempat duduk dan Gustaf sudah memegang tiketnya, jadi kami memutuskan untuk bertemu di dalam bandara saja.

Gustaf tiba pukul 17.30 dan kami langsung menuju Gate untuk duduk di pesawat. Sepanjang perjalanan kami terus mengobrol hal-hal tentang LKTM kemarin, cerita hal-hal yang dilewati hari ini, diskusi tentang LKM, dan hal-hal lainnya.

Setiba di bandara teman-teman finalis LKTM banyak yang mengirim pesan, menanyakan apakah kami sudah tiba di Jakarta. Mereka sangat perhatian sekali. Saya sangat bahagia punya teman-teman baru dari berbagai daerah seperti mereka. Jadi kalau kita mau keluar kota, kita bisa saling mengunjungi nantinya. Ditambah lagi punya teman baru di Makassar seperti Arma dan lainnya. Jadi di Makassar ada orang lain yang saya kenal selain keluarga saya.

Pengalaman LKTM Nasional seperti ini memang bikin ketagihan kalau bukan karena susahnya minta uang ke universitas rasanya mau ikut acara seperti ini terus deh. Saya berharap bisa bertemu dengan teman-teman dan finalis LKTM Inovasi Unhas dilain waktu. Satu lagi yang ga boleh terlupa, ucapan terima kasih untuk Ningsih, LO kami yang baik hati mau membawakan oleh-oleh saya saat di Pantai Losari, memberikan obat batuk untuk saya, dan sabar menghadapi teman-teman saya yang heboh banget.

Bersama LO Ningsih
Manusia memang tidak pernah puas, begitu juga saya, setelah merasakan (sedikit) atmosfer mahasiswa di Unhas, sekarang saya penasaran dengan atmosfer mahasiswa di pulau jawa dan pulau lainnya. Selanjutnya saya bisa mengunjungi seluruh tempat dan kampus di Indonesia. Serta satu hal lagi, semoga bisa kembali lagi ke Makassar menikmati waktu bersama keluarga dan teman baru.




Continue reading Kompetisi Melahirkan Pertemanan

Selasa, 11 November 2014

,

Tiongkok: Dulu, Kini, dan di Sini

Ketertarikan saya dengan sejarah dan budaya Tiongkok bermula saat saya menyaksikan drama sejarah Korea Goddess of Fire, Joeng Yi yang menceritakan tentang wanita pembuat tembikar pertama di Korea. Dalam drama ini menyajikan hubungan diplomatik antara Dinasti Joseon dari Korea dan Dinasti Ming dari Tiongkok. Konflik dalam drama ini ditambah dengan hadirnya Kerajaan Jepang yang menyerang Korea untuk menculik si wanita pembuat tembikar ini.

Dari drama itu, saya jadi bertanya-tanya tentang hubungan dari ketiga negara tersebut. Mereka memiliki banyak kesamaan. Dari mulai ras, budaya, dan bahkan mereka menggunakan bahasa aksara yang hampir sama. Hingga saya sempat mengambil hipotesa sendiri (tanpa membaca referensi literatur) bahwa akar budaya dari ketiga negara ini adalah negara Tiongkok.

Hipotesa ini saya ambil karena sejarah panjang Tiongkok yang sudah lahir sejak sebelum masehi dan sepadan dengan masa Mesopotamia dan Mesir Kuno. Selain itu, Jepang dan Korea membuat bahasa aksara mereka sendiri karena rakyat mereka kesulitan dalam mempelajari bahasa mandarin. Tiongkok juga merupakan guru dari Jepang, walaupun pada akhirnya Jepang pernah menyerang Tiongkok saat diserang oleh bangsa asing pada perang candu.

Sejarah panjang Tiongkok mengantarkan masyarakatnya menjelajahi dunia pada masa Dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho pada abad ke 14. Bumi nusantara pun tak luput dari penjelajahan mereka. Ketika Cheng Ho ke Indonesia ternyata penduduk Tiongkok sudah mendiami Indonesia lebih dulu. Nio Joe Lan dalam bukunya Tiongkok Sepanjang Abad menceritakan bahwa ketika Cheng Ho tiba di Palembang ia disambut oleh Raja Palembang yang merupakan orang Tionghoa bernama Chen Tsu I.

Keberadaan Chen Tsu I sebagai Raja Palembang mengindikasikan bahwa masyarakat Tiongkok memang sudah lama hidup bersama dengan masyarakat pribumi. Diperkirakan sejak abad ke-5 mereka telah mengunjungi Indonesia untuk mencari rempah-rempah dan menetap disini, hingga akhirnya mereka berakulturasi dengan pribumi.

Kehadiran masyarakat Tionghoa di Indonesia mengingatkan kembali tentang masa kecil saya yang tidak terlepas dari orang Tionghoa. Sejak saya bersekolah di bangku SD sampai di perguruan tinggi, saya selalu berteman baik dengan mereka. Tetangga di rumah atau bahkan setiap menikmati perjalanan selalu ditemukan orang Tionghoa. Pada intinya kita hidup berdampingan dengan mereka.
Di daerah Tangerang tempat saya tinggal terdapat komunitas Tionghoa yang sangat terkenal. Mereka adalah komunitas Cina Benteng yang merupakan cikal bakal hidupnya daerah kota Tangerang. Merekalah yang mengurusi daerah tersebut ketika masih berupa lahan kosong saat “diusir” secara halus oleh Belanda untuk mengurusi daerah Tangerang yang sebelumnya masih berupa hutan belukar. Hingga banyak masyarakat dari wilayah Nusantara lainnya datang meramaikan tempat ini. Orang pribumi Nusantara inipun menikah dengan orang Tiongkok totok ini dan menghasilkan Tiongkok peranakan.

Namun Eddy Prabowo Witanto MA, seorang sinolog dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa sejarah Cina Benteng berada karena banyaknya orang Tionghoa yang mengungsi ke daerah luar Batavia seperti Tangerang akibat serangan Belanda. Serangan Belanda ini terjadi pada tahun 1740 karena pemberontakan oleh orang Tionghoa akibat keputusan VOC yang ingin membuang orang-orang Tiongkok ke Sri Langka untuk bekerja di kebun milik VOC.

Secara penampilan orang-orang dari komunitas Cina Benteng ini tidak sama dengan orang Tionghoa kebanyakan yang berkulit putih dan bermata sipit. Sebaliknya, justru mereka sangat mirip dengan pribumi dengan wajahnya yang kecoklatan dan tidak bermata sipit. Warna kulit mereka yang terang berubah kecoklatan karena mereka bekerja sebagai petani menanami sayur-sayuran. Dari segi ekonomi pun, kebanyakan dari mereka adalah orang dari menengah kebawah.

Kata Benteng dari penamaan komunitas ini sendiri berasal dari nama Benteng Makassar yang dahulu pernah berdiri di tepi Sungai Cisadane, Tangerang. Dahulu benteng ini dikuasai oleh orang-orang asal Bone, Makassar yang dipimpin oleh Aru Palaka untuk mencegah direbutnya wilayah ini ke tangan VOC. Namun sayangnya Benteng ini sudah rata dengan tanah.

Sampai saat ini orang-orang dari Cina Benteng masih hidup berdampingan bersama pribumi dengan baik. Dalam percakapan sehari-hari pun mereka menggunakan bahasa Indonesia dan memang kebanyakan dari mereka sudah tidak bisa berbahasa mandarin. Logat bicara mereka pun sudah tercampur dengan logat Betawi Tangerang.

Di Tangerang sendiri terdapat acara budaya tahunan bernama Festival Cisadane. Acara budaya ini menampilkan kreatifitas masyarakat Tangerang dan juga kearifan lokal kota ini. Puncak acara dari festival ini adalah perayaan Pe Chun dan perlombaan perahu naga yang merupakan kebudayaan Tiongkok. Tidak lupa penampilan Barongsai dan Lion menjadi pertunjukkan favorit masyarakat sekitar.

Perayaan Tiongkok yang ditampilkan dalam acara budaya Festival Cisadane ini menunjukkan bahwa Kota Tangerang memang lahir dari budaya Tiongkok dan mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan kota ini. Kesenian Tari Cokek yang merupakan tari khas Tangerang sebenarnya adalah hasil akulturasi masyarakat sunda dengan Tiongkok. Begitu pula musik gambang kromong yang selalu ditampilkan dalam acara pernikahan. Makanan seperti asinan, capcay, kwetiau yang merupakan makanan khas Tiongkok pun sudah sering kita nikmati.


Secara keseluruhan kehadiran orang Tionghoa ini merupakan salah satu etnis yang tidak bisa dipisahkan dari bangsa Indonesia. Namun, sayang keberadaan mereka masih sering mendapat diskriminasi oleh pribumi. Entah karena mereka yang menguasai perekonomian di Indonesia, dilihat dari banyaknya perusahaan-perusahaan besar dan toko-toko yang pemiliknya adalah orang Tionghoa atau karena generalisasi sifat-sifat mereka. 
Continue reading Tiongkok: Dulu, Kini, dan di Sini