Senin, 28 September 2015

, , , ,

Adat Istiadat Kematian di Jeneponto Makassar


Melalui kepergiannya, sepertinya Ayah ingin menunjukanku adat istiadat di kampung halamannya di Jeneponto Makassar, Sulawesi Selatan. Adat istiadat kematian seseorang. Aku melihat ada beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan budaya Islam di tanah Jawa. Namun prosesi pemakaman ayah tetap menggunakan syari’at islam pada umumnya. Dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan.

Saat dimandikan dan dikafani, tidak ada perbedaan yang berarti. Hanya saja ayah dimandikan di dalam rumah. Mungkin karena bentuk rumah almarhumah nenekku adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu, sehingga air bekas mandipun turun ke bawah rumah dan mudah dikeringkan atau dibersihkan.

Ayah dishalatkan di masjid dekat rumah. Sebelum jalan menuju pemakaman usai dishalatkan, keranda ayah dibacakan doa terlebih dahulu, lalu dilemparkan beras, daun, serta beberapa uang logam. Kemudian ayah dibawa ke pemakaman. Sayangnya aku belum sempat menanyakan kepada pamanku makna dari hal tersebut.

Jenazah digotong dengan kalimat toyyibah, namuan aku tidak sempat mendengar dengan jelas karena cepatnya mereka membawa keranda ayah. Tempat ayah dimakamkan adalah pemakaman keluarga dekat dengan persawahan. Makam ayah dekat dengan orang tuanya dan kakak iparnya. Butuh berjalan kaki sejauh lebih dari 500m untuk tiba di sana.

Tahun lalu ketika berziarah kuburnya kakek dan nenek, ayah juga digotong oleh sepupu-sepupuku dengan tandu bagaikan pengantin sunat. Tahun ini pun ayah juga ditandu menuju ke pemakaman, tetapi dengan keranda mayat yang hanya tinggal jasadnya saja. Jika tahun lalu sawah dalam keadaan basah dan cukup sulit dilewati bagi yang tidak biasa, tahun ini karena adanya El Nino yang luar biasa terjadi hampir di seluruh Indonesia, persawahan itu kering menguning bahkan menghitam sehingga mudah dilewati.

Proses Pemakaman

Tidakku temukan adanya tenda yang menjadi petanda tempat ayah akan dikuburkan seperti di Jakarta. Yang ada hanya berupa lubang tanah yang sudah digali. Sayangnya aku kurang menyaksikan dengan baik apakah saat ayah dimasukkan ke dalam lubang kubur diadzankan terlebih dahulu atau tidak, karena aku dilarang oleh sepupuku untuk mendekat tanah kubur ayah saat dimasukkan. Nanti susah dapat jodoh katanya.

Jenazah ayah ditutupi dengan papan panjang yang langsung menjadi satu. Pada pemakaman yang pernah ku hadiri sebelumnya di Jakarta, biasanya ditutupi dengan beberapa bambu atau papan yang terpisah. Selesai ayah dimakamkan, kuburan ayah ditutupi dengan batu-batu yang cukup besar. Tinggi dari makam ayah hampir setinggi betisku.

Nantinya setelah satu tahun kepergian ayah ku, batu-batu ini akan diubah menjadi sebuah makam yang diberi semen. Alasannya karena khawatir akan terjadi longsor pada kuburan tersebut jika langsung disemen tanpa menunggu satu tahun. Karena selama satu tahun tersebut tanah kering itu sudah terkena hujan sehingga menjadi kuat.

Tidak ada pembacaan tahlil, atau tahmid, ayat kursi Al-Qur’an atau doa lainnya yang dibaca dengan lantang oleh seorang ustadz dan diamini oleh para pengantar di depan makam ayah. Di sini doa-doa hanya dibacakan oleh Imam Desa dengan tidak bersuara keras. Tapi aku tidak tahu doa apa saja yang dibaca. Yang pasti Imam Desa yang juga sepupuku itu membaca doa yang ada di buku kecil bertulis bahasa Arab yang dibawanya. Selanjutnya makam ayah diberi bunga oleh aku, dan beberapa keponakannya saja.

Bunga yang ditebar juga bukan bunga, mawar dan melati yang dijual di dekat pemakaman di Jakarta, tetapi berupa daun seperti daun pandan namun lebih panjang yang kemudian sebagian dipotong-potong kecil dan sebagian lagi dipotong setengahnya.

Bunga atau daun memang bukan masalah besar karena keduanya sama-sama ciptaan Allah yang akan terus berdzikir sampai bunga atau daun itu mengering. Pemberian bunga dan daun ini tetap diniatkan agar dzikir dari makhluk Allah tersebut dapat membantu sang mayit dari siksa kubur. Mengenai hal ini Rasulullah saw pernah melakukannya juga ketika melewati pemakaman dan beliau saw mendengar adanya suara dari dalam kubur yang menjerit. Lalu Rasulullah saw memetik daun dan meletakkannya di atas makam tersebut.

Usai pemakaman, keluargaku yang tinggal di dusun lain yang jauh dari tempatku di Desa Bontokassi mulai kembali ke rumahnya. Namun, rumah nenekku ini masih penuh dengan keluargaku yang tinggal di dekat sini. Menjelang sore mereka mulai bersiap untuk pengajian malam pertama ayahku.



Pengajian Malam Pertama

Aku pikir pengajian akan dilakukan di dalam rumah, ternyata dilakukan di luar rumah. Pantas saja banyak kursi yang sudah dirapihkan. Yang aku ketahui pengajian malam pertama baisanya berupa pembacaan tahlilan dan ayat kursi. Namun di sini pengajian hanya dibacakan oleh ahli warisnya, yaitu aku. Aku membaca surat Yasin dengan micrphone dihadapan keluargaku. Setelah pembacaan Yasinku selesai, acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang dibawakan oleh seorang ustadz dengan bahasa Makassar. Jujur saja aku tidak mengerti apa yang disampaikannya malam itu karena aku tidak mengerti bahasa Makassar. Tapi ustadz tidak banyak menyinggung mengenai kematian, malah ia juga membicarakan tentang haji.

Ceramah usai, kemudian keluargaku mulai membagikan panganan kue basah yang dibuat sejak sore untuk tamu yang hadir. Di sini tidak ada makanan besek atau berkat yang kemudian akan dibawa pulang oleh tamu. Mereka hanya disediakan kopi, teh, dan kue basah tradisional yang dibuat sendiri.

Tiba dihari pertama setelah ayah dimakamkan. Setelah sholat ashar akan datang seorang Imam Desa ke rumah nenekku. Ia akan membacakan doa, shalat, dan mengaji beberapa lembar Al-Qur’an yang pahalanya dikirim untuk ayah. Disampingnya disediakan pula tempat semacam dupa yang dibakar dengan sabut kelapa dan dihadapannya terdapat tempat makan yang pernah ayah pakai selama hidupnya dan dihidangkan makanan.

Makanan itu bukan untuk Imam Desa yang membacakan doa. Tapi makanan tersebut nantinya akan dimakan oleh aku, mama, atau keluargaku yang lain, walaupun hanya sesuap dua suap. Piring tersebut setelah dipakai pun tidak langsung dicuci. Hanya dilap saja. Peralatan makan ayah tersebut tidak akan dicuci sampai 7 hari kepergian ayah dan itu  di bawah ranjang bersamaan dengan potongan kelapa tua dan gula merah. Gula merah ini menandakan manis dan diharapkan akan memberikan kehidupan yang manis untuk orang yang meninggal.

Setiap sorenya menjelang ashar sampai hari ke 7 aku harus menebar bunga ke makam ayah bersama sepupuku dan beberapa keponakanku. Kami menuju makam harus dengan Imam Desa lainnya di sana yang juga merupakan sepupuku. Pemandangan sore persawahan yang indah menemani perjalananku menuju makam ayah. Mama baru ikut menebar bunga dihari ketiga. Aku dan mama juga tidak diperbolehkan oleh pamanku keluar dari dusun setelah tiga hari ayahku.

Malam Berikutnya

Malam kedua tidak ada lagi ceramah dari ustadz, malam kedua ini benar-benar pengajian. Tetapi bukan pengajian dengan pembacaan tahlilan ataupun Yaasin, melainkan pembacaan Al-Qur’an dari surat pertama. Di rumah nenek disediakan empat buah Al-Qur’an. Pembacaan Al-Qur,an pun dibaca terlebih dahulu oleh empat orang bapak-bapak. Bapak-bapak lainnya yang datang pertama-tama ikut mendengarkan terlebih dahulu atau sesekali ikut melantunkan surat yang dibaca bersama. 


Pembacaan Al-Qur’an ini dibaca terlebih dahulu oleh satu orang, ayat berikutnya lalu dibaca bersama-bersama. Mereka juga bisa saling mengkoreksi bacaan satu sama lain. setelah satu orang selesai, diganti dengan orang berikutnya, begitupun seterusnya. Dan setelah empat orang pertama sudah selesai bergiliran, mereka akan bergantian dengan bapak-bapak yang sudah datang dan menunggu atau dengan bapak-bapak yang beru datang.

Ibu-ibu tidak ikut mengaji, mereka sibuk di dapur membuat makanan untuk para bapak yang mengaji. Rumah tetap ramai, ramai karena ada yang mengaji, ramai karena ada yang memasak, dan ramai karena hampir semua keluargaku berkumpul menonton tv bersama. Bahkan bapak-bapak yang belum dapat giliran ikut juga menonton tv. Di luar rumah kursi-kursi tetap disediakan untuk mereka yang datang mengaji atau hanya sekedar berbincang.

Pengajian dimulai sehabis isya pukul 8 malam hingga pukul 11 kurang. Bapak-bapak ini pun tidak langsung pulang, setelah menikmati panganan biasanya mereka masih berbincang atau ada satu orang yang membaca kitab bahasa Makassar dalam tulisan Arab. Btw, cara baca mereka baik Al-Qur’an atau kitab makassarnya dibaca dengan nada yang justru dengar mirip lantunan lagu jawa di telingaku.

Hari ketiga dan ketujuh

Hari ketiga dapur rumah nenek menjadi sibuk lebih awal. Jika biasanya keluarga mulai memasak untuk orang yang mengaji setelah ashar atau maghrib, sebelum dzuhur tiba, mereka sudah repot untuk masak ikan dan kue.

Rupanya pengajian pada hari ketiga dilakukan pukul 2 siang. Bapak-bapak terutama dua Imam Desa datang membacakan Qur’an. Lalu di atas piring disediakan beberapa jumalh uang kertas yang sudah dilipat. Setelah pembacaan Qur’an dan juga dzikir telah dilakukan, pamanku akan membagikan uang kertas itu untuk mereka yang membaca Qur’an sambil diberi bacaan doa.

Uang yang diberikan kepada orang mengaji itu diniatkan semua pahalanya untuk ayahku yang sudah pergi. Setelah usai membaca Qur’an, mereka disediakan makanan bukan hanya berupa kue seperti malam-malam sebelumnya tetapi juga makan berat berupa nasi, ikan, dan sayur.
Malam harinya pengajian seperti biasanya tetap dilakukan.

Hari ketujuh merupakan puncak dari adat istiadat kematian di Jeneponto. Kata sepupuku, “hari ketujuh itu menunjukkan seberapa besarnya orang-orang di sini mencintai ayahmu.” Pada awalnya aku berniat akan kembali ke Jakarta pada hari minggu, di hari kelima ayah pergi, tetapi keluargaku di Makassar menyarankanku untuk mengundurnya lagi hingga hari ketujuh. Akhirnya aku pun menunda kepulanganku untuk menunggu hari tujuh ayah ku yang cuma ada setahun sekali ini.

Adat istiadat kematian hari ketujuh di sini mirip seperti pesta pernikahan. Sejak H-2 keluargaku membeli peralatan rumah tangga seperti kasur, bantal, guling, ranjang, sprei, kursi, meja, termos, baju, peci, dll sebagainya. Masing-masing mereka beli dua untuk dua Imam Desa. Mereka juga membuat banyak sekali kue bolu dan masakan lainnya. Mereka memasak banyak ketan, ikan goreng, ikan bakar, dan lauk lainnya.

Mendengar cerita dari keluargaku yang lain, ia pernah melihat orang membeli barang-barang seperti kasur dan lemari yang masing-masing seharga 5 juta hanya untuk melaksanakan adat istiadat ini. mungkin karena ia memiliki banyak uang dan kemampuan lainnya. sebenarnya pembelian barang-barang ini tergantung dari keluarga mereka masing-masing. Malahan paman bercerita jika seseorang itu belum diaqiqah, orang yang meninggal itu juga akan dipotongkan kerbau.

Namun pembelian alat rumah tangga ini menurutku sangat berlebihan dan termasuk pemborosan. Walaupun pamanku bilang, ini adalah sedekah untuk yang membacakan doa buat ayah dan pahala dari sedekah itu akan mengalir untuk ayah. Aku khawatir kalau ayah sebenarnya juga tidak menyukai cara seperti ini. Teringat pula olehku bahwa mengikuti nenek moyang yang tidak berdasar tetap dibenci Allah. Tetapi aku tidak bisa berbuat banyak karena itu adalah permintaan dari pamanku dan adat di daerah tersebut. Jika ini memang salah, semoga Allah mengampuniku.

Rupanya pada malam ketujuh disiapkan sebuah meja untuk menaruh hidangan karena hampir semua keluarga besarku dan para tetangga lainnya berdatangan untuk memberikan uang ataupun berupa makanan di dalam ranjang yang dibungkus kain. Semua datang menikmati hidangan dan mengucapkan kembali kalimat duka cita untuk aku, ibuku dan pamanku. Setelah tamu usai menyantap hidangan, bapak-bapak mulai kembali membaca Qur’an.

Pagi di hari ketujuh ternyata masih ada tamu yang datang. Makanan juga dipersiapkan kembali. Hingga matahari hampir meninggi, akhirnya semua barang rumah tangga yang kusebutkan diatas berupa ranjang dan teman-temannya, juga kue-kue bolu, makanan lauk pauk, dan hadiah lainnya yang diberikan para pelayat ditaruh di atas kasur. Kasur tersebut diletakkan di luar rumah. Barang-barang itu kemudian dibacakan doa oleh pamanku, sebelum akhirnya akan diberikan kepada dua Imam Desa di dusun Bontokassi.

Semua barang yang ditaruh di atas ranjang digotong bersamaan oleh semua saudara laki-laki ku menuju rumah Imam Desa. Barang-barang tersebut lalu dimasukkan ke dalam rumah Imam Desa. Imam Desa itupun kemudian naik di atas ranjang dan membawa dupa, lalu mulai membaca doa. Sambil Imam Desa membaca doa, aku harus memegang kasur. Entahlah maksudnya apa, mungkin sebagai pertanda bahwa aku dari pihak keluarga yang ditinggalkan yang memberikan ini untuk ayah.

Imam Desa dan keluarganya tidak hanya sekedar menerima pemberian dan membacakan doa. Para pengantar barang tersebut disuguhkan juga makan berupa kolak pisang putih. Alhasil, aku memakan dua porsi karena mengantarkan barang ke dua rumah Imam Desa.

Setelah mengantarkan semua barang itu berakhirlah adat istiadat kematian di Jeneponto yang harus aku lakukan. Sebenarnya adat istiadat ini masih terus dilakukan hingga hari ke sepuluh, 20, 40 atau 100 harinya. Tetapi karena aku dan mama hanya di Jeneponto sampai hari ke tujuh, adat seperti ini tidak dilanjutkan kembali.

Begitulah adat istiadat kematian di Jeneponto. Betapa Indonesia dianugerahkan Allah tidak hanya dengan kekayaan alamnya saja, tetapi juga dengan keberagaman budaya yang berbeda di setiap daerahnya. Menurutku selama adat istiadat ini masih berada di jalan Allah, kita patut melestarikannya. Tapi jika itu memberatkan atau menyimpang terlalu jauh sebaiknya kita meninggalkannya saja.
Continue reading Adat Istiadat Kematian di Jeneponto Makassar

Minggu, 27 September 2015

,

Kepergian Ayah


Tahun 2015 belum usai, tapi rasanya sudah banyak sekali kejadian baik ataupun buruk di tahun ini yang saya alami. Tahun di mana aku tepat berusia 20 tahun. Di Negara Jepang dan Korea, usia 20 Tahun adalah usia menandai kedewasaan mereka. Mereka mulai memasuki dunia perkuliahan, tinggal jauh dari orang tua, bahkan masuk ke club malam.

Di usia 20 tahun ku ini, banyak sekali hal menyedihkan bagiku terjadi. Tepat seminggu setelah hari kelahiranku, aku harus meninggalkan tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, yaitu Tangerang dan pindah ke daerah Cisauk, Bogor. Walaupun sebenarnya Cisauk masih dekat dengan Tangerang. Selanjutnya karena ada masalah dengan rumah yang aku tempati di Cisauk itu ayah dan mama menginginkan untuk menetap di kampung halamannya di Jeneponto Makassar sementara dan aku merasakan untuk beberapa saat menjadi anak rantau.

Puncak dari peristiwa di tahun ini adalah kepergian orang yang paling dekat denganku dan paling aku sayang, yaitu ayahku. Ia pergi untuk selamanya tepat di hari ke 100 ia menetap di Makassar (14 September 2015) dan di usianya yang telah menginjak 63 Tahun. Selama 100 hari itu pula aku belum berjumpa lagi dengan ayahku setelah keberangkatannya menuju Makassar. Setelah 100 hari itupun, aku berhasil berjumpa dengan ayahku walau hanya tinggal jasadnya saja. Meskibegitu, aku bersyukur masih bisa melihat ayahku sebelum dimakamkan. Alhamdulillah.


Semua memori dan kenangan bersama ayah langsung muncul merebak bersama air mata ketika mendengar kepergian ayah. Teringat pula pesan-pesannya sebelum kepergiannya, serta penyesalan karena banyak permintaannya yang belum bisa aku wujudkan. Terutama permintaannya untuk dibelikan obat herbal yang aku tunda lantaran tak cukup uang yang kupunya. Padahal kalau saja aku mau memakai sisa uang yang ada atau pun berusaha mencari pinjaman mungkin tidak akan seperti ini jadinya.

Rasanya masih sebentar sekali waktu yang kupunya bersama ayah. Aku ingin sekali melihat ayah sembuh dan bisa berjalan-jalan bersama lagi seperti waktu aku masih SD dulu. Aku ingin saat wisudaku nanti, ada ayah dan mama yang menghadiri dan bisa foto bersama. Dan ketika aku menikah nanti ada ayah yang menjadi wali nikahku dan membacakan ijab qabul bersama calon suamiku nanti.

Namun, sekarang tidak ada lagi ayahku yang selalu memelukku sambil menangis dan bersyukur karena aku pulang setelah 5 hari di kosan dan di kampus. Tidak ada lagi ayah yang selalu membanggakanku, anak satu-satunya di depan teman-temannya. Tidak ada lagi ayah yang selalu berdzikir siang dan malam untuk mendoakan aku agar sukses di dunia dan akhirat. Tidak ada lagi ayah yang selalu memanggil namaku dan menelponku setiap saat aku jauh dengannya.

Inilah rencana Allah untuk ayahku, aku dan ibuku. Allah-lah yang berhak atas diri ayahku. Aku teringat doa ayahku “Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan ankkku”. Ayah dan aku mungkin saling menyayangi dan tak ingin berpisah, tapi Allah jauh lebih sayang pada ayah yang sudah menderita sakit stroke ringan selama enam tahun, ditambah komplikasi sakit jantung dan mag. Allah ingin menghilangkan menyakitnya dan semoga Allah menempatkan ayahku di surga-Nya bersama Rasulullah SAW dan para sholihin.

Kini yang ayahku butuhkan hanyalah doa. Doa, lantunan Qur’an dan sedekah yang pahalanya dihadiahkan untuk ayah yang bisa aku lakukan dan berusaha mewujudkan keinginan yang pernah ayah sampaikan untukku. Harta berhargaku saat ini tinggallah ibuku yang harus aku jaga dan kubahagiakan. Sekarang hanyalah ridho dan doanya yang aku harapkan. 

Aku yakin, every cloud has a silver lining. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Semua cobaan yang Allah berikan tahun ini pasti ada hikmah dan ada rencana indah yang Allah siapkan untuk aku dan ibuku. Tahun 2015 belum berakhir. Semoga akhir dari tahun ini akan berbuah manis.
Continue reading Kepergian Ayah

Selasa, 14 Juli 2015

,

Berbuka Puasa, Berbuka Silaturahim

Buka puasa di bulan Ramadhan tidak hanya sekedar tentang membatalkan puasa, tetapi juga menjadi hal yang mempererat kembali hubungan dengan masa lalu. Masa lalu di sini bukan soal ceelbeka dengan mantan, tapi dengan teman-teman lama dari masa lalu. Dari teman SD, SMP, SMA, atau teman sepermainan di rumah yang dekat sejak lahir. Bulan Ramadhan menjadi bulan penyambung silaturahmi dan tali pertemanan atau persuadaraan.

Tidak melulu dengan teman-teman lama, buka bersama (bukber) dengan teman kampus, tenan kantor, atau keluarga besar sekalipun menjadi hal yang tidak boleh ketinggalan. Buka puasa bersama dengan orang-orang spesial menjadi hal yang wajib dilakukan di momen puasa Ramadhan yang hanya datang sebulan dalam setahun. Tidak heran jika banyak sekali orang-orang yang mengunggah foto kebersamaan mereka saat bukber di jejaring sosial. 

Menurut saya pribadi mengunggah foto bukber di jejaring sosial adalah bentuk syukur bisa berjumpa yang dibagi ke banyak orang dan salah satu tanda we may not miss this moment in a capture or whatever

Ramadhan tahun ini pun menjadi ajang saya berkumpul kembali dengan teman SMA saya, yang hampir 2 atau 3 tahun tidak jumpa. Bukan karena tidak pernah ada acara kumpul bersama, sempat ada beberapa acara seperti tahun baru, tapi saya tidak bisa hadir. Justru ketika tempat tinggal saya sudah tidak di tangerang dan butuh sekitar 1 setengah jam perjalanan pergi naik motor, saya bela-belain datang dari jauh demi bertemu mereka.

Senang bertemu dengan mereka dengan jumlah yang hampir komplit. Banyak cerita dan perubahan fisik tentunya. Yang kurus jadi lebih berisi, yang berisi jadi lebih kurus, tapi ada juga yang ga berubah. Tapi sifat-sifat mereka ga banyak berubah. Masih sama seperti dulu. Ada yang masih dibully, ada yang gaya ketawa, gaya bercanda, atau gaya malu-malunya masih sama. Ditambah lagi cerita kenangan masa lalu sewaktu di sekolah dengan guru yang bikin ketawa. Aaah jadi kangen masa-masa itu kaaaannnnn hehe


Masih di Tangerang, beruntung saya masih punya banyak keluarga di sini untuk menginap. Keesokan harinya saya meet up lagi dengan teman SMA di Rohis. Ini dadakan banget. Karena dadakan Yang datang ga banyak. Tapi cukup untung saling bersilaturahmi dan berbagi cerita. Dari yang sedikit ini juga seru ternyata. Ada kabar bahagia dan ada hal yang baru aku lihat, hehe. Yang terpenting perhatian mereka yang ruaaaar biasa. Senang punya saudara seperti mereka.

Setelah bukber teman SMA, sekarang bukber teman kantor dari DiAR YKBH. Setelah projek Ramadhan kami hampir semuanya usai kecuali Roadshow Edukasi Ramadhan, kami diundang bukber di Bebek Kaleyo Tebet sebagai ucapan terima kasih oleh petinggi-petinggi DiAR. Bukber kantor ini sebenarnya menjadi pertanda berakhirnya kesibukan dan tugas saya di kantor selama Ramadhan. I'm supposed to be happy, but actually i still wanna do more, karena ich hab' keinen guten Platz zu gehen mehr. At least nikmatin ajalah yaaa



Anyway, mungkin restauran agak lesu di siang hari di bulan Ramadhan, tapi menjelang waktu berbuka, jangan harap dapat tempat makan kalau belum reservasi atau harus jadi korban PHP alias waiting list. Begitu reservasi jam 2 siang di Bebek Kaleyo pun kami tidak dapat di ruangan ber AC atau yang bisa duduk lesehan karena sudah di-booking orang lain dari beberapa hari sebelumnya. Bukber di rumah lebih nikmat ternyata walaupun merepotkan tuan rumah.

Bukber selanjutnya adalah bukber dengan teman nongkrong di kampus. Kami berencana makan di K-Town, di daerah daan mogot. Jaraknya hampir sama jauhnya seperti ke Tangerang hanya kami hemat waktu 30 menit. Kami rela jauh dari timur datang ke barat hanya untuk bukber dengan makan korea. Saya pun mengajak teman saya yang beru kecanduan drama korea. 

Di daerah Citra 6 Daan Mogot, restauran di sini tidak seramai dengan restauran di luar ruko atau komplek ini waktu berbuka puasa. Mungkin karena akses angkutan umum yang tidak tersedia. Begitu kami tiba K-Town, hoel, restaurannya tutup. Huaaah agak kaget ya, karena sudah datang jauh-jauh dan teman saya pun sudah membayangkan menu-menu yang akan dipesan tapi ternyata tokonya tutup setiap hari selasa.

Akhirnya kami pun memilih makan di restauran Jepang "Ozumo" yang tidak jauh dari sini. Makanan di restauran ini ternyata tidak membuat kami menyesal dengan tutupnya K-Town karena makanannya sehr lecker. Kami pun bisa memilih menu dengan nasi, ada yang pesan ramen, dan saya sendiri pesan udon. Setidaknya kami bisa pesan Sushi dan Sashimi atau Nigiri ball.




Keseruan bukber berikutnya adalah bukber dengan saudara saya yang tinggal di Tangerang. Karena iseng buka sendirian di Kosan akhirnya saya main ke rumahnya dan dia mengajak saya bukber di Travelmie di daerah pasar lama Tangerang. Menu andalannya adalah Indomie yang sajikan sama persis seperti bungkusnya. Tidak hanya mie instan, tapi banyak menu lainnya seperti nasi panggang, kue cubit, kue pancong, roti bakar, dll.


Hal yang menarik adalah konsep tempat makannya yang dibuat anak gunung banget, seolah-olah kita ada di puncak gunung. Saya sendiri kaget begitu pertama melihat tempat ini penuh dengan tenda-tenda camping. Rupanya tempat ini adalah "meja-meja" nya yang dinamai pos. Ada sekitar 20 tenda kamping dan beberapa kursi di luar tenda.Peralatan makanannya juga seru, tempat minumnya bukan dengan gelas, tapi menggunakan botol minum. Nasi Bakar disajikan dengan alat pembakarnya. Yang terpenting, makanannya yang tidak kalah enak. 



Itu beberapa keberkahan Ramadhan bukber dengan orang-orang istimewa. Walaupun ada acara bukber dengan teman SD yang terpaksa dilewatkan karena harus mengajar part time di Jakarta. Overall, Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Continue reading Berbuka Puasa, Berbuka Silaturahim

Sabtu, 25 April 2015

,

Resensi The Atlantis Gene: Fantasi dalam Sejarah dan Ilmiah

Tema Atlantis sedang asik-asiknya diperbincangkan. Apalagi kabarnya Indonesia merupakan salah satu bagian dari negeri tersebut. Negeri yang menurut Plato hilang karena gempa bumi dan banjir besar. Atlantis menjadi semakin menarik ketika A.G. Riddle menulisnya ke dalam sebuah novel fiksi pertamanya yang diceritakan dengan gabungan thriller action dan sejarah ilmiah.

Kisah dalam novel The Atlantis Gene (Gen Manusia Atlantis) dimulai dengan prolog yang menceritakan tentang ditemukannya sebuah kapal selam U-Boat milik Nazi di Antartika dan ikuti dengan penemuan sebuah bangunan yang ada di bawah kapal selam tersebut. Bangunan tersebut adalah bangunan yang selama ini mereka cari, tetapi Riddle rupanya ingin membuat para pembaca penasaran dengan tidak menceritakan bangunan apa yang mereka temukan dan apa identitas para penemu itu sebenarnya.

Novel ini membagi cerita ke dalam tiga bagian berdasarkan latar tempatnya. Jakarta Membara menjadi bagian pertama. Tidak heran jika gambar Monas dan gambar kobaran api menjadi inspirasi desain sampul novel yang diterjemahkan oleh Ahmad Alkadri ini. Penculikan dua anak autis dari laboratorium milik Dr. Kate Warner dan pemboman yang terjadi di Stasiun Manggarai memulai cerita thriller dengan aksi laga yang digambarkan sengan sangat apik dan rinci oleh penulis.

Riddle menggambarkan kota Jakarta sebagai ibukota yang macet sesuai dengan realita masa kini. Namun ada sedikit keganjalan kecil. Setting waktu dalam novel ini adalah tahun 2013, tetapi ia masih menggambarkan suasana stasiun Manggarai dan penumpang kereta seperti tahun 2000-an sebelum diberlakukannya larangan duduk di atap kereta api. “Remaja dan penumpang yang masih muda duduk di atap kereta, berjongkok atau meluruskan kaki, membaca koran, memainkan ponsel, dan mengobrol,” kata Riddle.

David Vale adalah salah seorang agen dari Menara Jam, sebuah organisasi anti teroris yang memberikan perlindungan untuk menjaga dunia. Organisasi ini mirip seperti CIA, namun keberadaannya dirahasiakan dari pemerintah. David merasa bahwa organisasi ini telah disusupi oleh Immari yakni sebuah perusahaan yang berkonspirasi untuk menjatuhkan dunia. Kejadian 9/11 di kota New York menabraknya pesawat ke menara kembar WTC diduga David adalah ulah dari perusahaan Immari tersebut.

Orang-orang di dalam organisasi Menara Jam jusrtru mengejar David Vale karena menyangka bahwa ia adalah penyusup dalam organisasi tersebut. David pun harus melarikan diri dari kejaran mereka dan disaat yang sama ia juga harus menyelamatkan Kate dari kepolisian yang kemudian ditangkap oleh orang-orang Immari bagaikan seorang tersangka. Padahal mereka adalah orang-orang yang membiayai penelitian Kate tentang anak-anak autisme di Indonesia.
Riddle sangat detail dalam menggambarkan setiap adegan aksi thriller tembak-tembakan dan kejar-kejaran dalam bagian ini. Latar tempatnya tentu masih di Kota Jakarta. Dalam sampul dituliskan bahwa novel ini akan segera diangkat ke layar lebar. Jika itu memang lokasi yang akan digunakan nantinya adalah di Jakarta, entah di lokasi mana film ini akan dilakukan. Mengingat Jakarta adalah kota yang padat.

Novel ini terdiri dari 144 bab. Jumlah bab yang banyak ini tidak akan terasa karena cerita dalam setiap babnya ditulis secara singkat. Hal menarik lainnya dari buku ini adalah pemaparan sejarah tentang keberadaan manusia dan spesies-spesies manusia lainnya yang ada di bumi pada ratusan ribu tahun lalu seperti Neanderthal, Hobbit, dan Denisovan yang dijelaskan secara ilmiah melalui dialog antar tokoh.

Immari ingin melakukan pemusnahan manusia untuk mengurangi jumlah populasi manusia yang ada saat ini dengan menggunakan Protokol Toba agar Lompatan Besar ini terjadi. Meletusnya Gunung Toba di Indonesia menghasilkan debu yang menutupi matahari di banyak tempat di dunia sehingga terjadi musim dingin vulkasnis selama bertahun-tahun. Perubahan ini yang mengakibatkan Lompatan Besar jumlah populasi manusia yang semula berjumlah 200.000 menjadi hanya 10.000.

Ketegangan yang terjadi ketika Kate dan David berhasil melarikan diri dari kejaran orang-orang Immari Jakarta untuk menyelamatkan kedua anak autis Kate yang diculik di Immari Tibet, Tiongkok, mengantarkan kita pada bagian kedua yang mengambil latar tempat di Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok. Kate dan David berhasil masuk ke dalam Pusat Riset Immari di Tiongkok dengan menggunakan ID karyawan di sana dengan bantuan seseorang yang ingin menyelamatkan dunia dari Immari.

Di sini Kate berhasil bertemu dengan kedua anak autis tersebut, namun sayangnya mereka harus terpisah kembali karena diketahui oleh orang-orang Immari. Sebagai balasannya Kate dimasukan ke dalam sebuah ruangan yang terdapat Lonceng yang mampu mengeluarkan getaran yang sangat kuat hingga membuat darah seseorang meledak. Lonceng ini kabarnya merupakan senjata rahasia yang digunakan oleh Nazi.

Banyak manusia yang dijadikan bahan percobaan untuk Lonceng ini. Semua manusia yang dimasukkan ke dalam ruangan tersebut tewas, tetapi Kate dan dua anak autisnya justru tetap selamat. Hal inilah yang membuat Immari penasaran penelitian apa yang digunakan oleh Kate kepada dirinya dan dua anak autisnya hingga mereka bisa selamat karena mereka ingin menggunakannya untuk melaksanakan Protokol Toba.

Kate dan David hampir saja mati ketika terjadi ledakan di Pusat Riset akibat Lonceng ini. Namun akhirnya mereka terselamatkan oleh bantuan para biksu yang tinggal di pengunungan Tibet. Mereka menetap beberapa waktu sampai keadaan David pulih akibat tembakan yang terjadi di pusat riset. Di sinilah mereka menemukan tujuan Immari melalui jurnal milik Patrick Pierce yang dititipkan kepada kepala biksu bernama Qian.

Di dalam bagian ini cerita didominasi oleh tulisan dari jurnal tahun 1917 yang cukup panjang dan membosankan. Saya sendiri rasanya ingin buru-buru ingin mengetahui kejadian di tahun 2013. Namun catatan jurnal ini sayang untung dilewatkan karena berisi sejarah tentang perjalanan hidup Patrick dengan Immari yang sangat rinci dan memiliki hubungan yang sangat mengejutkan pada bagian berikutnya.

Pada bagian terakhir, Riddle mengajak kita untuk mengetahui gambaran Atlantis melalui jurnal dan petualangan Kate dan David. “Kami percaya ini adalah Atlantis. Kota yang diceritakan Plato. Lokasinya Tepat. Plato mengatakan Atlantis berada di tengah Samudra Atlantik, dan bahwa Atlantis adalah pulau yang menghadap selat menuju Pilar Herkules,” Craig menjelaskan kepada Patrick ketika dibujuk untuk terus menggali terowongan yang menurutnya adalah pintu gerbang untuk memasuki Atlantis.

Pintu gerbang tersebut adalah Gibraltar yang berada di Spanyol. Batu Gibraltar ini adalah salah satu Pilar Herkules dan menjadi jalan menuju benua-benua lainnya. Dari lokasi tersebut terdapat struktur ganjil yang sedang digali oleh Immari yang dijelaskan melalui jurnal yang dibaca Kate dan David. Dari penelusuran proyek struktur di Gibraltar tersebut Immari menemukan Lonceng lainnya yang ketika diangkat ke daratan menyebabkan terjadinya wabah Flu Spanyol yang menewaskan banyak orang.

Banyak sekali kejutan-kejutan yang disajikan pada akhir bagian ini. Seperti keterkaitan antara para tokoh di dalam jurnal milik Patrick Pierce dan tokoh saat cerita berlangsung. Kita juga akan tahu alasan kenapa Kate dan dua anak autisnya bisa selamat dari getaran Lonceng. Siapa seseorang yang membantu Kate dan David untuk bisa sampai ke Tibet. Pada intinya pertanyaan yang timbul saat membaca novel ini dari awal akan terjawab di bagian akhir ini.

Riddle sangat apik menggabungkan unsur sejarah, ilmiah, dan fantasi ke dalam novel pertamanya. Saya sendiri pada awalnya sulit untuk membedakan antara sejarah dan penjelasan ilmiah yang sesungguhnya dengan cerita fiksi yang dibuat Riddle. Saya hampir percaya dengan kemungkinan yang diungkapkan salah satu tokoh bahwa anak autis bisa berevolusi di masa depan sebagai bangsa yang dapat membantai manusia. Namun begitu tiba di akhir cerita, saya pun mengerti bagian mana yang berupa fantasi karena ada banyak hal yang tidak logis jika memang itu adalah sebuah sejarah atau bentuk ilmiah.

Continue reading Resensi The Atlantis Gene: Fantasi dalam Sejarah dan Ilmiah