Minggu, 27 September 2015

,

Kepergian Ayah


Tahun 2015 belum usai, tapi rasanya sudah banyak sekali kejadian baik ataupun buruk di tahun ini yang saya alami. Tahun di mana aku tepat berusia 20 tahun. Di Negara Jepang dan Korea, usia 20 Tahun adalah usia menandai kedewasaan mereka. Mereka mulai memasuki dunia perkuliahan, tinggal jauh dari orang tua, bahkan masuk ke club malam.

Di usia 20 tahun ku ini, banyak sekali hal menyedihkan bagiku terjadi. Tepat seminggu setelah hari kelahiranku, aku harus meninggalkan tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, yaitu Tangerang dan pindah ke daerah Cisauk, Bogor. Walaupun sebenarnya Cisauk masih dekat dengan Tangerang. Selanjutnya karena ada masalah dengan rumah yang aku tempati di Cisauk itu ayah dan mama menginginkan untuk menetap di kampung halamannya di Jeneponto Makassar sementara dan aku merasakan untuk beberapa saat menjadi anak rantau.

Puncak dari peristiwa di tahun ini adalah kepergian orang yang paling dekat denganku dan paling aku sayang, yaitu ayahku. Ia pergi untuk selamanya tepat di hari ke 100 ia menetap di Makassar (14 September 2015) dan di usianya yang telah menginjak 63 Tahun. Selama 100 hari itu pula aku belum berjumpa lagi dengan ayahku setelah keberangkatannya menuju Makassar. Setelah 100 hari itupun, aku berhasil berjumpa dengan ayahku walau hanya tinggal jasadnya saja. Meskibegitu, aku bersyukur masih bisa melihat ayahku sebelum dimakamkan. Alhamdulillah.


Semua memori dan kenangan bersama ayah langsung muncul merebak bersama air mata ketika mendengar kepergian ayah. Teringat pula pesan-pesannya sebelum kepergiannya, serta penyesalan karena banyak permintaannya yang belum bisa aku wujudkan. Terutama permintaannya untuk dibelikan obat herbal yang aku tunda lantaran tak cukup uang yang kupunya. Padahal kalau saja aku mau memakai sisa uang yang ada atau pun berusaha mencari pinjaman mungkin tidak akan seperti ini jadinya.

Rasanya masih sebentar sekali waktu yang kupunya bersama ayah. Aku ingin sekali melihat ayah sembuh dan bisa berjalan-jalan bersama lagi seperti waktu aku masih SD dulu. Aku ingin saat wisudaku nanti, ada ayah dan mama yang menghadiri dan bisa foto bersama. Dan ketika aku menikah nanti ada ayah yang menjadi wali nikahku dan membacakan ijab qabul bersama calon suamiku nanti.

Namun, sekarang tidak ada lagi ayahku yang selalu memelukku sambil menangis dan bersyukur karena aku pulang setelah 5 hari di kosan dan di kampus. Tidak ada lagi ayah yang selalu membanggakanku, anak satu-satunya di depan teman-temannya. Tidak ada lagi ayah yang selalu berdzikir siang dan malam untuk mendoakan aku agar sukses di dunia dan akhirat. Tidak ada lagi ayah yang selalu memanggil namaku dan menelponku setiap saat aku jauh dengannya.

Inilah rencana Allah untuk ayahku, aku dan ibuku. Allah-lah yang berhak atas diri ayahku. Aku teringat doa ayahku “Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan ankkku”. Ayah dan aku mungkin saling menyayangi dan tak ingin berpisah, tapi Allah jauh lebih sayang pada ayah yang sudah menderita sakit stroke ringan selama enam tahun, ditambah komplikasi sakit jantung dan mag. Allah ingin menghilangkan menyakitnya dan semoga Allah menempatkan ayahku di surga-Nya bersama Rasulullah SAW dan para sholihin.

Kini yang ayahku butuhkan hanyalah doa. Doa, lantunan Qur’an dan sedekah yang pahalanya dihadiahkan untuk ayah yang bisa aku lakukan dan berusaha mewujudkan keinginan yang pernah ayah sampaikan untukku. Harta berhargaku saat ini tinggallah ibuku yang harus aku jaga dan kubahagiakan. Sekarang hanyalah ridho dan doanya yang aku harapkan. 

Aku yakin, every cloud has a silver lining. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Semua cobaan yang Allah berikan tahun ini pasti ada hikmah dan ada rencana indah yang Allah siapkan untuk aku dan ibuku. Tahun 2015 belum berakhir. Semoga akhir dari tahun ini akan berbuah manis.
Continue reading Kepergian Ayah

Selasa, 14 Juli 2015

,

Berbuka Puasa, Berbuka Silaturahim

Buka puasa di bulan Ramadhan tidak hanya sekedar tentang membatalkan puasa, tetapi juga menjadi hal yang mempererat kembali hubungan dengan masa lalu. Masa lalu di sini bukan soal ceelbeka dengan mantan, tapi dengan teman-teman lama dari masa lalu. Dari teman SD, SMP, SMA, atau teman sepermainan di rumah yang dekat sejak lahir. Bulan Ramadhan menjadi bulan penyambung silaturahmi dan tali pertemanan atau persuadaraan.

Tidak melulu dengan teman-teman lama, buka bersama (bukber) dengan teman kampus, tenan kantor, atau keluarga besar sekalipun menjadi hal yang tidak boleh ketinggalan. Buka puasa bersama dengan orang-orang spesial menjadi hal yang wajib dilakukan di momen puasa Ramadhan yang hanya datang sebulan dalam setahun. Tidak heran jika banyak sekali orang-orang yang mengunggah foto kebersamaan mereka saat bukber di jejaring sosial. 

Menurut saya pribadi mengunggah foto bukber di jejaring sosial adalah bentuk syukur bisa berjumpa yang dibagi ke banyak orang dan salah satu tanda we may not miss this moment in a capture or whatever

Ramadhan tahun ini pun menjadi ajang saya berkumpul kembali dengan teman SMA saya, yang hampir 2 atau 3 tahun tidak jumpa. Bukan karena tidak pernah ada acara kumpul bersama, sempat ada beberapa acara seperti tahun baru, tapi saya tidak bisa hadir. Justru ketika tempat tinggal saya sudah tidak di tangerang dan butuh sekitar 1 setengah jam perjalanan pergi naik motor, saya bela-belain datang dari jauh demi bertemu mereka.

Senang bertemu dengan mereka dengan jumlah yang hampir komplit. Banyak cerita dan perubahan fisik tentunya. Yang kurus jadi lebih berisi, yang berisi jadi lebih kurus, tapi ada juga yang ga berubah. Tapi sifat-sifat mereka ga banyak berubah. Masih sama seperti dulu. Ada yang masih dibully, ada yang gaya ketawa, gaya bercanda, atau gaya malu-malunya masih sama. Ditambah lagi cerita kenangan masa lalu sewaktu di sekolah dengan guru yang bikin ketawa. Aaah jadi kangen masa-masa itu kaaaannnnn hehe


Masih di Tangerang, beruntung saya masih punya banyak keluarga di sini untuk menginap. Keesokan harinya saya meet up lagi dengan teman SMA di Rohis. Ini dadakan banget. Karena dadakan Yang datang ga banyak. Tapi cukup untung saling bersilaturahmi dan berbagi cerita. Dari yang sedikit ini juga seru ternyata. Ada kabar bahagia dan ada hal yang baru aku lihat, hehe. Yang terpenting perhatian mereka yang ruaaaar biasa. Senang punya saudara seperti mereka.

Setelah bukber teman SMA, sekarang bukber teman kantor dari DiAR YKBH. Setelah projek Ramadhan kami hampir semuanya usai kecuali Roadshow Edukasi Ramadhan, kami diundang bukber di Bebek Kaleyo Tebet sebagai ucapan terima kasih oleh petinggi-petinggi DiAR. Bukber kantor ini sebenarnya menjadi pertanda berakhirnya kesibukan dan tugas saya di kantor selama Ramadhan. I'm supposed to be happy, but actually i still wanna do more, karena ich hab' keinen guten Platz zu gehen mehr. At least nikmatin ajalah yaaa



Anyway, mungkin restauran agak lesu di siang hari di bulan Ramadhan, tapi menjelang waktu berbuka, jangan harap dapat tempat makan kalau belum reservasi atau harus jadi korban PHP alias waiting list. Begitu reservasi jam 2 siang di Bebek Kaleyo pun kami tidak dapat di ruangan ber AC atau yang bisa duduk lesehan karena sudah di-booking orang lain dari beberapa hari sebelumnya. Bukber di rumah lebih nikmat ternyata walaupun merepotkan tuan rumah.

Bukber selanjutnya adalah bukber dengan teman nongkrong di kampus. Kami berencana makan di K-Town, di daerah daan mogot. Jaraknya hampir sama jauhnya seperti ke Tangerang hanya kami hemat waktu 30 menit. Kami rela jauh dari timur datang ke barat hanya untuk bukber dengan makan korea. Saya pun mengajak teman saya yang beru kecanduan drama korea. 

Di daerah Citra 6 Daan Mogot, restauran di sini tidak seramai dengan restauran di luar ruko atau komplek ini waktu berbuka puasa. Mungkin karena akses angkutan umum yang tidak tersedia. Begitu kami tiba K-Town, hoel, restaurannya tutup. Huaaah agak kaget ya, karena sudah datang jauh-jauh dan teman saya pun sudah membayangkan menu-menu yang akan dipesan tapi ternyata tokonya tutup setiap hari selasa.

Akhirnya kami pun memilih makan di restauran Jepang "Ozumo" yang tidak jauh dari sini. Makanan di restauran ini ternyata tidak membuat kami menyesal dengan tutupnya K-Town karena makanannya sehr lecker. Kami pun bisa memilih menu dengan nasi, ada yang pesan ramen, dan saya sendiri pesan udon. Setidaknya kami bisa pesan Sushi dan Sashimi atau Nigiri ball.




Keseruan bukber berikutnya adalah bukber dengan saudara saya yang tinggal di Tangerang. Karena iseng buka sendirian di Kosan akhirnya saya main ke rumahnya dan dia mengajak saya bukber di Travelmie di daerah pasar lama Tangerang. Menu andalannya adalah Indomie yang sajikan sama persis seperti bungkusnya. Tidak hanya mie instan, tapi banyak menu lainnya seperti nasi panggang, kue cubit, kue pancong, roti bakar, dll.


Hal yang menarik adalah konsep tempat makannya yang dibuat anak gunung banget, seolah-olah kita ada di puncak gunung. Saya sendiri kaget begitu pertama melihat tempat ini penuh dengan tenda-tenda camping. Rupanya tempat ini adalah "meja-meja" nya yang dinamai pos. Ada sekitar 20 tenda kamping dan beberapa kursi di luar tenda.Peralatan makanannya juga seru, tempat minumnya bukan dengan gelas, tapi menggunakan botol minum. Nasi Bakar disajikan dengan alat pembakarnya. Yang terpenting, makanannya yang tidak kalah enak. 



Itu beberapa keberkahan Ramadhan bukber dengan orang-orang istimewa. Walaupun ada acara bukber dengan teman SD yang terpaksa dilewatkan karena harus mengajar part time di Jakarta. Overall, Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Continue reading Berbuka Puasa, Berbuka Silaturahim

Sabtu, 25 April 2015

,

Resensi The Atlantis Gene: Fantasi dalam Sejarah dan Ilmiah

Tema Atlantis sedang asik-asiknya diperbincangkan. Apalagi kabarnya Indonesia merupakan salah satu bagian dari negeri tersebut. Negeri yang menurut Plato hilang karena gempa bumi dan banjir besar. Atlantis menjadi semakin menarik ketika A.G. Riddle menulisnya ke dalam sebuah novel fiksi pertamanya yang diceritakan dengan gabungan thriller action dan sejarah ilmiah.

Kisah dalam novel The Atlantis Gene (Gen Manusia Atlantis) dimulai dengan prolog yang menceritakan tentang ditemukannya sebuah kapal selam U-Boat milik Nazi di Antartika dan ikuti dengan penemuan sebuah bangunan yang ada di bawah kapal selam tersebut. Bangunan tersebut adalah bangunan yang selama ini mereka cari, tetapi Riddle rupanya ingin membuat para pembaca penasaran dengan tidak menceritakan bangunan apa yang mereka temukan dan apa identitas para penemu itu sebenarnya.

Novel ini membagi cerita ke dalam tiga bagian berdasarkan latar tempatnya. Jakarta Membara menjadi bagian pertama. Tidak heran jika gambar Monas dan gambar kobaran api menjadi inspirasi desain sampul novel yang diterjemahkan oleh Ahmad Alkadri ini. Penculikan dua anak autis dari laboratorium milik Dr. Kate Warner dan pemboman yang terjadi di Stasiun Manggarai memulai cerita thriller dengan aksi laga yang digambarkan sengan sangat apik dan rinci oleh penulis.

Riddle menggambarkan kota Jakarta sebagai ibukota yang macet sesuai dengan realita masa kini. Namun ada sedikit keganjalan kecil. Setting waktu dalam novel ini adalah tahun 2013, tetapi ia masih menggambarkan suasana stasiun Manggarai dan penumpang kereta seperti tahun 2000-an sebelum diberlakukannya larangan duduk di atap kereta api. “Remaja dan penumpang yang masih muda duduk di atap kereta, berjongkok atau meluruskan kaki, membaca koran, memainkan ponsel, dan mengobrol,” kata Riddle.

David Vale adalah salah seorang agen dari Menara Jam, sebuah organisasi anti teroris yang memberikan perlindungan untuk menjaga dunia. Organisasi ini mirip seperti CIA, namun keberadaannya dirahasiakan dari pemerintah. David merasa bahwa organisasi ini telah disusupi oleh Immari yakni sebuah perusahaan yang berkonspirasi untuk menjatuhkan dunia. Kejadian 9/11 di kota New York menabraknya pesawat ke menara kembar WTC diduga David adalah ulah dari perusahaan Immari tersebut.

Orang-orang di dalam organisasi Menara Jam jusrtru mengejar David Vale karena menyangka bahwa ia adalah penyusup dalam organisasi tersebut. David pun harus melarikan diri dari kejaran mereka dan disaat yang sama ia juga harus menyelamatkan Kate dari kepolisian yang kemudian ditangkap oleh orang-orang Immari bagaikan seorang tersangka. Padahal mereka adalah orang-orang yang membiayai penelitian Kate tentang anak-anak autisme di Indonesia.
Riddle sangat detail dalam menggambarkan setiap adegan aksi thriller tembak-tembakan dan kejar-kejaran dalam bagian ini. Latar tempatnya tentu masih di Kota Jakarta. Dalam sampul dituliskan bahwa novel ini akan segera diangkat ke layar lebar. Jika itu memang lokasi yang akan digunakan nantinya adalah di Jakarta, entah di lokasi mana film ini akan dilakukan. Mengingat Jakarta adalah kota yang padat.

Novel ini terdiri dari 144 bab. Jumlah bab yang banyak ini tidak akan terasa karena cerita dalam setiap babnya ditulis secara singkat. Hal menarik lainnya dari buku ini adalah pemaparan sejarah tentang keberadaan manusia dan spesies-spesies manusia lainnya yang ada di bumi pada ratusan ribu tahun lalu seperti Neanderthal, Hobbit, dan Denisovan yang dijelaskan secara ilmiah melalui dialog antar tokoh.

Immari ingin melakukan pemusnahan manusia untuk mengurangi jumlah populasi manusia yang ada saat ini dengan menggunakan Protokol Toba agar Lompatan Besar ini terjadi. Meletusnya Gunung Toba di Indonesia menghasilkan debu yang menutupi matahari di banyak tempat di dunia sehingga terjadi musim dingin vulkasnis selama bertahun-tahun. Perubahan ini yang mengakibatkan Lompatan Besar jumlah populasi manusia yang semula berjumlah 200.000 menjadi hanya 10.000.

Ketegangan yang terjadi ketika Kate dan David berhasil melarikan diri dari kejaran orang-orang Immari Jakarta untuk menyelamatkan kedua anak autis Kate yang diculik di Immari Tibet, Tiongkok, mengantarkan kita pada bagian kedua yang mengambil latar tempat di Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok. Kate dan David berhasil masuk ke dalam Pusat Riset Immari di Tiongkok dengan menggunakan ID karyawan di sana dengan bantuan seseorang yang ingin menyelamatkan dunia dari Immari.

Di sini Kate berhasil bertemu dengan kedua anak autis tersebut, namun sayangnya mereka harus terpisah kembali karena diketahui oleh orang-orang Immari. Sebagai balasannya Kate dimasukan ke dalam sebuah ruangan yang terdapat Lonceng yang mampu mengeluarkan getaran yang sangat kuat hingga membuat darah seseorang meledak. Lonceng ini kabarnya merupakan senjata rahasia yang digunakan oleh Nazi.

Banyak manusia yang dijadikan bahan percobaan untuk Lonceng ini. Semua manusia yang dimasukkan ke dalam ruangan tersebut tewas, tetapi Kate dan dua anak autisnya justru tetap selamat. Hal inilah yang membuat Immari penasaran penelitian apa yang digunakan oleh Kate kepada dirinya dan dua anak autisnya hingga mereka bisa selamat karena mereka ingin menggunakannya untuk melaksanakan Protokol Toba.

Kate dan David hampir saja mati ketika terjadi ledakan di Pusat Riset akibat Lonceng ini. Namun akhirnya mereka terselamatkan oleh bantuan para biksu yang tinggal di pengunungan Tibet. Mereka menetap beberapa waktu sampai keadaan David pulih akibat tembakan yang terjadi di pusat riset. Di sinilah mereka menemukan tujuan Immari melalui jurnal milik Patrick Pierce yang dititipkan kepada kepala biksu bernama Qian.

Di dalam bagian ini cerita didominasi oleh tulisan dari jurnal tahun 1917 yang cukup panjang dan membosankan. Saya sendiri rasanya ingin buru-buru ingin mengetahui kejadian di tahun 2013. Namun catatan jurnal ini sayang untung dilewatkan karena berisi sejarah tentang perjalanan hidup Patrick dengan Immari yang sangat rinci dan memiliki hubungan yang sangat mengejutkan pada bagian berikutnya.

Pada bagian terakhir, Riddle mengajak kita untuk mengetahui gambaran Atlantis melalui jurnal dan petualangan Kate dan David. “Kami percaya ini adalah Atlantis. Kota yang diceritakan Plato. Lokasinya Tepat. Plato mengatakan Atlantis berada di tengah Samudra Atlantik, dan bahwa Atlantis adalah pulau yang menghadap selat menuju Pilar Herkules,” Craig menjelaskan kepada Patrick ketika dibujuk untuk terus menggali terowongan yang menurutnya adalah pintu gerbang untuk memasuki Atlantis.

Pintu gerbang tersebut adalah Gibraltar yang berada di Spanyol. Batu Gibraltar ini adalah salah satu Pilar Herkules dan menjadi jalan menuju benua-benua lainnya. Dari lokasi tersebut terdapat struktur ganjil yang sedang digali oleh Immari yang dijelaskan melalui jurnal yang dibaca Kate dan David. Dari penelusuran proyek struktur di Gibraltar tersebut Immari menemukan Lonceng lainnya yang ketika diangkat ke daratan menyebabkan terjadinya wabah Flu Spanyol yang menewaskan banyak orang.

Banyak sekali kejutan-kejutan yang disajikan pada akhir bagian ini. Seperti keterkaitan antara para tokoh di dalam jurnal milik Patrick Pierce dan tokoh saat cerita berlangsung. Kita juga akan tahu alasan kenapa Kate dan dua anak autisnya bisa selamat dari getaran Lonceng. Siapa seseorang yang membantu Kate dan David untuk bisa sampai ke Tibet. Pada intinya pertanyaan yang timbul saat membaca novel ini dari awal akan terjawab di bagian akhir ini.

Riddle sangat apik menggabungkan unsur sejarah, ilmiah, dan fantasi ke dalam novel pertamanya. Saya sendiri pada awalnya sulit untuk membedakan antara sejarah dan penjelasan ilmiah yang sesungguhnya dengan cerita fiksi yang dibuat Riddle. Saya hampir percaya dengan kemungkinan yang diungkapkan salah satu tokoh bahwa anak autis bisa berevolusi di masa depan sebagai bangsa yang dapat membantai manusia. Namun begitu tiba di akhir cerita, saya pun mengerti bagian mana yang berupa fantasi karena ada banyak hal yang tidak logis jika memang itu adalah sebuah sejarah atau bentuk ilmiah.

Continue reading Resensi The Atlantis Gene: Fantasi dalam Sejarah dan Ilmiah

Sabtu, 31 Januari 2015

, ,

Mengambil Kesempatan

Banyak keuntungan dengan bergabung di organisasi terutama organisasi yang bisa mewujudkan impian kita. Satu lagi dengan bergabung di LKM, hari ini saya mendapat pengalaman baru menjadi moderator acara Pelatihan Menulis Resensi untuk Media Massa. Pematerinya orang luar biasa. Penulis esai, cerpen, dan juga kritik buku nasional. Ia adalah Damhuri Muhammad.

Pada saat mendapat tawaran dari Ka Egi (Kadiv. Public Speaking) LKM UNJ untuk menjadi moderator, awalnya saya ragu untuk menerima tawaran ini. Perlu beberapa menit untuk mengambil keputusan. Pertimbangannya adalah ini merupakan acara di luar LKM dan membutuhkan penampilan yang tidak boleh mengecewakan karena akan berdampak pada kepercayaan teman-teman di UNJ dalam menggunakan jasa MC dan Moderator dari LKM. Informasinya pun juga sangat mendadak. Selain itu saya juga memiliki jadwal part time mengajar di bimbel.

Pada saat itu saya masih memikirkan keuntungan ekonomis. Jika saya mengajar saya bisa mendapatkan tambahan uang tapi tanpa pengalaman baru. Sedangkan untuk menjadi moderator, saya belum terlalu siap apalagi menjadi pemandu untuk pembicara yang hebat. Namun saya berpikir bahwa ini adalah pengalaman untuk bisa mengembangkan sayap tidak hanya di kandang sendiri. Saya perlu pengalaman di luar yang bisa menunjang kemampuan diri saya. Saya pikir ini adalah kesempatan untuk mengembangkan diri. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi moderator. Meminta izin untuk tidak mnegajar di tempat bimbel.

Satu malam saya rasa cukup untuk menyiapkan bekal menjadi moderator. Walaupun saat itu masih belum mendapat informasi yang jelas dari panitia saya akan menjadi moderator untuk materi ke berapa.

Pada saat melihat kondisi acara yang santai membuat saya ikut santai dalam mempersiapkan diri menjadi moderator. walaupun saya masih berpikir keras pertanyaan apa yang harus saya kemukakan untuk memancing audiens nanti atau jika tidak ada yang bertanya. Sampai saya meminta kepada senior-senior saya yang hadir untuk membuatkan pertanyaan. Tentu mereka tidak mau dengan alasan agar saya belajar.

Tidak banyak yang saya lakukan sebagai moderator kecuali hanya memperkenalkan pemateri dengan membaca CV dan membantunya untuk mengambil kertas dari peserta pelatihan. Detik sebelum saya memandu materi kedua, saya sangat tegang. Mungkin ini yang membuat saya merasa agak sedikit gagap atau artikulasi saya saat bicara menjadi kurang jelas dan takut untuk biacara lebih banyak. Namun ketegangan ini mulai menghilang begitu saya bicara dan duduk di sebelah pemateri.

Pada awalnya saya memang belum mengenal beliau. Tapi setelah membaca biografinya, mengetahui beliau dari senior, dan antusias peserta kepada beliau, saya menyadari bahwa beliau memang sangat hebat. Hanya saja saya yang kurang update. Sudah banyak jumlah tulisan beliau yang dimuat di media nasional, buku-buku yang diterbitkan, dan juga cerpen-cerpennya yang terkenal.  Beliau memang tidak seterkenal penulis fiksi popular seperti Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, ataupun Asma Nadia. Tapi justru menurut saya, penulis hebat seperti Pak Damhuri Muhammad adalah orang-orang terkenal di kalangan orang-orang tertentu. Ini yang membuat beliau dan orang-orang seperti beliau lebih spesial.

Sebagai moderator seharusnya saya mengajak ngobrol pemateri agar tidak terjadi keheningan saat peserta sedang sibuk dengan tulisan mereka. Tapi yang terjadi tadi, justru pak Damhuri yang mengajak saya berbincang tentang film Jerman dan tentang komunitas baca di LKM. Mungkin beliau memaklumi keadaan saya yang masih newbie kali ya..

Well, banyak pelajaran berharga yang dipetik dalam pelatihan ini. Dalam bidang penulisan, meresensi buku memang menjadi pilihan favorit saya ketimbang esai dan cerpen. Semula saya berpikir dalam menulis resensi itu mudah hanya dengan menuangkan tanggapan kita terhadap buku yang kita baca. Dari pelatihan ini saya menyadari bahwa tulisan resensi saya belum ada apa-apanya. Dan memang meresensi buku tidaklah mudah.

Selain menjelaskan isi cerita dari buku, kita perlu menghubungkan hal-hal yang berada di luar buku atau unsur ekstrinsiknya. Lalu membandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis atau dengan memperhatikan kejadian yang terjadi pada kurung waktu sang penulis mengarang buku. Kemampuan untuk bisa menulis resensi yang baik dan bisa dimuat di media massa harus diimbangi dengan banyak berlatih. Menurut pak Damhuri meresensi buku tidak harus ketika selesai membaca satu buku. Setiap satu bab kita buat resensinya sudah cukup untuk kita berlatih. Agar resensi bisa dimuat di media massa pun kita harus membuat resensi buku yang sesuai dengan kondisi terbaru saat ini dan tidak menawarkan isu yang sudah selesai.

Menjelang akhir penjelasan dari Pak Damhuri saya mendapat ilham untuk mengajukan satu pertanyaan. Dan ini mendapatkan poin plus dari ka egi karena saya berhasil bertanya di saat tidak ada peserta yang bertanya. Hikmah menjadi moderator saya menjadi saling kenal dengan pemateri dan menambah jaringan baru.

Selalu mengambil kesempatan yang ada menjadi pesan diakhir evaluasi Ka Egi untuk saya. Saya jadi merasa telah mengambil keputusan yang benar walaupun awalnya sempat ragu. Alhamdulillah. Tinggal perlu banyak latihan lagi untuk membaca, menulis, dan berbicara.


Continue reading Mengambil Kesempatan

Minggu, 07 Desember 2014

, ,

Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika: Petualangan Mencari (Kebenaran) Berita

Petualangan Hanum dan Rangga di Amerika bermula ketika Hanum mendapatkan tugas dari kantornya untuk membuat artikel tentang kejadian 11 September 2001 dengan temawould the world be better without Islam?”  dan di saat yang sama Rangga juga ditugaskan oleh professornya untuk menghadiri Konferensi di Washington DC.

Petualangnan mereka berdua semakin seru ketika hendak menuju Washington DC mereka tersesat akibat kerumunan massa yang sedang berdemo tentang peringatan hari 9/11 di New York. Ternyata dari terpisahnya mereka berdua, mereka menemukan pelajaran berharga antara hubungan Islam dan Amerika, serta menemukan hal-hal yang sangat berharga yang dibutuhkan Hanum untuk artikelnya.

Buku Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTdLA) karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra ini kembali mengajak kita untuk melihat cahaya Islam di negeri Paman Sam ini melalui kejadian 9 September 2001. Jika pada buku 99 Cahaya di Langit Eropa (99 Cahaya), gaya penulisan hanya berorientasi pada cerita Hanum, maka kali ini mereka membuat gaya penulisan dalam buku ini lebih menarik dengan mengambil sudut pandang kedua penulis (Hanum dan Rangga) dan beberapa narasi kejadian berdasarkan tanggal.

Hanum dan Rangga begitu apik dalam menceritakan kejadian demi kejadian yang mereka alami saat terpisah di Washington DC. Narasi tentang kejadian 9/11 juga digambarkan dengan sangat baik, sehingga membawa pembaca seolah-olah sedang melihat dan merasakan langsung kejadian tersebut. Mereka juga memberikan beberapa fakta dan logika tentang kejadian tersebut melalui tokoh antar tokoh saat Hanum melakukan wawancara, seperti “kenapa bangunan yang begitu tinggi dan kuat tersebut bisa jatuh” dan “terdengar bunyi ledakan bom di lantai bawah gedung padahal pesawat jatuh dari atas”.

Keterkaitan antar tokoh dalam novel ini menambah nuansa dalam petualangan Hanum dan Rangga. Seperti Jones yang sangat membenci Islam karena Istrinya meninggal akibat kejadian tersebut dan Julia seorang mualaf yang juga ditinggal mati oleh suaminya akibat kejadian yang sama merupakan narasumber Hanum dan istri dan suami mereka yang meninggal memiliki hubungan sebagai karyawan Phillipus Brown yang merupakan pemateri Konferensi Rangga ketika di Washington DC.

Tidak hanya soal keterkaitan 9/11 yang selama ini menyudutkan islam yang dibahas Hanum dan Rangga dalam kaitan Islam dan Amerika, mereka juga menemukan fakta lainnya seperti sejarah singkat berdirinya benua Amerika, Thomas Jefferson yang bisa berbahasa Arab dan juga memperlajari Al-Qur’an, simbol-simbol Islam yang digunakan di kantor-kantor pengadilan Amerika, salah satu terjemahan ayat suci Al-Qur’an yang dipajang di pintu masuk gerbang Fakultas Hukum Harvard University, dan lainnya.

Walaupun untuk cerita-cerita awal novel ini sempat membosankan, tapi begitu mengikuti petualangan mereka di Amerika, novel ini semakin menarik. Pada intinya, novel BTdLA lagi-lagi memberikan khazanah pengetahuan yang baru tentang sejarah Islam dan memberikan bukti lainnya yang membuat kita semakin bangga dengan agama ini.
Continue reading Resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika: Petualangan Mencari (Kebenaran) Berita